RSS

NasionalIsMe


“Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”
            Ahdan Wahid. Seperti kebanyakan pemuda, olah raga adalah hobinya. Sesekali melancong ke sawah untuk mengusir kejenuhan. Hasil melancongnya lumayan, ia dapat membantu dapur ibunya tetap mengepul.
            Sore itu, seperti biasanya. Ia harus latihan bulutangkis bersama klubnya. PB Dj Kudus. Dari klub inilah denyut bulutangkis di Kudus mulai berdegup kencang. Sebuah klub bulutangkis ternama, yang telah berhasil mencetak pemain-pemain bulutangkis yang handal. Sederet nama-nama legenda bulutangkis Indonesia lahir dari klub ini. Sebut saja Liem Swie King yang dijuluki King Smash. Ada pula Christian Hadinata, Icuk Sugiarto, Alan Budi Kusuma, Haryanto Arbi, Mohammad Ahsan, Tontowi Ahmad, serta masih banyak lagi.   (©Dews)
            Sebenarnya, porsi latihannya sudah harus ditambah mengingat sebentar lagi akan ada turnamen.
            “Nggak latihan, Le?” ibunya menghampiri saat ia sedang asyik angon bebek.
            “Nggeh, Buk. Latihan, jam 3.”  (©Dews)
            “Sudah pulang sana. Siap-siap.”
            Akhirnya dengan berat hati, Wahid meninggalkan ibunya meng-angon sendiri.
            Sudah lebih dari 10 tahun ia berlatih dan berjuang bersama klub Dj Kudus. Di usia yang baru menginjak 5 tahun, ayahnya mengikutkan seleksi pemain junior. Dia lolos seleksi, dan hingga hari ini, paling tidak sudah belasan medali emas ia raih dan lebih banyak lagi medali perak dan perunggu.
            Perjalanan yang ia tempuh menuju tempat latihan cukup jauh. 5 km, dengan hanya berjalan kaki. Tapi itu tak jadi masalah baginya. Bila ia lelah, kenangan cerita masa penjajahan yang selalu diceritakan ayahnya, seketika memenuhi memorinya.
            “Zaman dahulu, pejuang kalau mau perang, ndak ada yang pakai kendaraan perang seperti sekarang. Ndak ada itu. Mereka semua jalan kaki. Ndak hanya dari Jawa, dari seluruh Indonesia. Ratusan kilometer mereka berjalan. Mereka semua dengan semangat membara, berjuang demi kemerdekaan bangsa. Beda sama anak sekarang. Baru jalan sebentar, ngeluh. Capek sedikit, ngeluh. Ndak boleh pemuda Indonesia seperti itu. Ndak boleh,” kenang Wahid akan cerita ayahnya.
            Latihannya sore itu lebih banyak ke latihan fisik. Dan lebih banyak lagi latihan teknik. Sebelum latihan dimulai, sang pelatih memberikan sebuah pengumuman penting. Yakni tentang pemusatan latihan yang harus dijalani para atlet, sebelum turnamen Dj Sirkuit Nasional 2 bulan lagi.
            Wahid sangat terkejut mendengar pengumuman tersebut. Pasalnya, bila ia harus tinggal di asrama, tidak ada yang membantu ibunya bekerja. Ayahnya pun sudah tak sanggup bekerja karena terbaring sakit.  (©Dews)

            “Coach, saya nggak bisa kalau harus di asrama.”
            Iapun menceritakan hal ihwal mengenai keluarganya. Sang pelatih sangat mengerti tentang keadaan anak didiknya yang satu ini. Akhirnya sang pelatih memberi izin untuk Wahid pulang pergi dalam latihan, asalkan harus disiplin.
***
            Pagi-pagi sekali sebelum jam 4 pagi, ia telah membantu ibunya menyiapkan dagangan. Membantu hajat ayahnya, dan tak lupa memberi makan bebek mereka. Baru setelah itu, pada pukul 5 pagi, ia harus berangkat menuju tempat latihan. Saat dalam perjalanan seperti inilah, seringkali ia teringat akan kisah perjuangan orang-orang hebat sebelum menjadi sukses. Kisah Taufik Hidayat adalah salah satu yang selalu menginspirasinya.
            Perjalanan hidup mantan juara dunia bulutangkis dari Indonesia itu, hampir sama seperti dirinya. Sebelum menjadi pemain yang disegani di percaturan bulutangkis dunia, Taufik juga harus pergi ke tempat latihan hanya dengan berjalan kaki atau menumpang pada truk yang melintas. Hingga akhirnya, perjuangan beratnya itu, kini membuahkan hasil yang begitu membanggakan. Seluruh dunia-pun tahu, bahwa Taufik Hidayat merupakan pemain bulutangkis yang harus diwaspadai oleh lawan-lawannya tiap kali berlaga.
            Wahid yakin, perjuangannya ini, suatu saat pasti akan membuahkan hasil. Ia terus kobarkan keyakinannya itu tanpa lelah. Tak masalah bila ia harus menjalani 8 jam latihan sehari dengan tetap harus membantu orang tuanya dirumah. Tak masalah. Ia yakin bisa.
***
            Satu setengah bulan berlalu. Fisiknya mulai down karena kelelahan pulang pergi ke tempat latihan.  (©Dews)
            “Sudahlah, Le. Kalau nggak enak badan, ndak perlu dipaksa latihan,” ibunya menegur saat ia akan berangkat.
            Wahid sedikit tidak menghiraukan perkataan ibunya dan tetap nekat berlatih. Alhasil, saat sesi latihan sedang berlangsung, dirinya ambruk dan harus dibawa ke klinik. Sang pelatih yang mengetahui sebab dari penurunan kondisi fisik anak didiknya tersebut, akhirnya memutuskan agar Wahid masuk asrama untuk pemulihan segera terhadap kondisinya, tanpa toleransi lagi. 
            Berhari-hari setelah masuk asrama, hari yang ditunggu pun tiba. Turnamen Dj Sirkuit Nasional. Sehari sebelum bertanding, sang ibu sempat menjenguk dan menyampaikan surat ayahnya. Sang ibu berpesan bahwa ia tak perlu memikirkan kondisi keluarga. Ia hanya perlu fokus bertanding dan berdo’a.
            “Mbolo (panggilan akrab Wahid) konsentrasi, ya. Fokus,” sang pelatih mengarahkan.
            Mulai dari babak kualifikasi, ia telah mantap untuk berjuang dengan keras. Ia tampil gemilang dengan selalu menang straight game (menang 2 game langsung). Hingga semifinal, rekornya itu masih belum terpatahkan.
            “Ini penentuan. Santai saja, tapi langsung mematikan. Oke,” sang pelatih mengarahkan saat partai final antara dirinya kontra seteru abadinya Hilman Arda, dari klub Tangkas Alf Jakarta.
            Pertandingan berlangsung alot. Berkali-kali, jumping smash yang ia lepaskan berhasil dimentahkan oleh Arda. Hingga kedudukan 20-19 untuk match point Wahid, keduanya tak ada yang sudi untuk merelakan poin.
            “Wahid serve. Tidak dapat dikembalikan dengan baik oleh Hilman Arda. Langsung disambar saja oleh Wahid dengan smash keras. Yak. Masuk. Wahid, Ahdan Wahid juara tunggal putra Dj Sirkuit Nasional tahun ini,” suara komentator pertandingan menggema dari layar televisi diikuti tepuk tangan dan sorak sorai riuh para penonton di tribun arena.  (©Dews)
            Ibunda Wahid yang menyaksikan dari rumah bersama sang ayah, tak henti mengucap syukur menyaksikan kemenangan putra mereka. Wahid-pun demikian. Ia segera teringat isi surat sang ayah.
            “Kibarkan merah putih di puncak tertinggi. Jangan menyerah. Pemain bulutangkis juga pahlawan Indonesia. Buat negeri ini bangga akan prestasimu, Nak.”
            Saat bendera merah putih dikibarkan, dalam hati ia berujar.   (©Dews)

“Bapak, Ibuk, kemenangan ini untuk kalian. Ibu pertiwi, terimalah persembahan kami, anak bangsa Indonesia. Terimalah persembahan prestasi yang tiada henti kami ukir, hanya untukmu.”  (©Dews)

 (Dedew/Ashfi Raihan XI-IPS2) Dimuat di majalah IQRO' MAN 3 KEDIRI, Edisi 29 dengan tema yang sama, NasionalIsMe.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: