RSS

MENANTI JEMPUTAN AYAH


Siang terik menjamah kulit hingga seakan hampir terbakar. Rona bahagia terpancar dari raut sang kembang yang sedang mekar. Daun-daun pun merasa yang demikian. Siang ini mereka mendapat rezeki yang sangat cukup sekali untuk memasak. Lain tumbuhan, lain manusia. Peluh menetes dari tiap dahi yang menjelajah arus jalanan. Tampak kusut dan mengernyit karena sengatan sang surya. Mata mereka mimicing tak kuasa menatap kekuasaan Illahi yang sungguh maha dahsyat. Senang susah menghadapi hari itu, mereka adukan pada Sang Maha Kuasa, Maha Pencipta alam semesta ini. Pada akhirnya semesta dan seluruh isinya bertasbih kepadaNya.
Didalam sebuah rumah kos sempit namun hangat, seorang gadis manis sedang menunggu jemputan sang ayah. Hampir 2 jam ia menanti. Namun, sang ayah urung terlihat menyambangi tempat tinggalnya tiap 6 hari dalam sepekan tersebut.
Dalam kejemuan penantian, terlintas sebuah ide untuk membuat cerita bertema menanti jemputan ayah. Belum sempat gagasan itu terealisasi, sang pemilik rumah kos yang kebetulan sudah ia anggap sebagai neneknya sendiri, mengajaknya ngobrol.
“Gimana, ayahmu sudah mau sampek?”
“Belum, Eyang. Tadi waktu telpon katanya masih mau berangkat. Mungkin masih 1 jam lagi beliau sampai.”
“Oh, yasudah. Ini, ada buku perjalanan hidup Rasulullah. Juga dilengkapi bukti alat-alat kehidupan beliau waktu dulu. Lengkap ini bukunya. Kamu baca, ketimbang nganggur nggak jelas,” beliau menyodorkan buku tebal yang terlihat sangat mewah menurutku.
“Iya, makasih, Eyang.”
Segera saja petualangan menjelajah buku tersebut ia mulai.
Setelah beberapa saat membaca, sampailah ia pada keterangan bahwa ternyata Allah mentakdirkan diri Rasul yatim sejak kecil, saat beliau lahir sudah tidak memiliki ayah, ibu dan kakek wafat ketika beliau berusia anak-anak, adalah untuk meyakinkan umat bahwa ajaran yang beliau bawa adalah bukan hasil didikan ayah, ibu, maupun kakeknya. Karena notabennya kakek beliau adalah pembesar Quraisy yang sangat disegani. Mungkin saja dikemudian hari hal itu memunculkan perdebatan bahwa ajaran yang beliau bawa adalah hasil pemikiran kedua orang tuanya maupun kakeknya.
SubhanAllah…
Sungguh Allah tidak akan menakdirkan sesuatu hal terjadi, melainkan untuk menunjukkan adanya ibrah atau pelajaran luar biasa yang bisa dipetik manusia dibalik itu semua.
Gadis manis yang biasa dipanggil Wi itu tertegun. Benar, semua hal yang terjadi ada ibrah dibaliknya atau setelahnya. Dan, ia juga merasakan ibrah itu. Bahwa, saat ia menanti sang ayah, Allah memberinya kesempatan yang sangat berharga untuk mengambil ibrah dari kisah perjalanan hidup Baginda Rasulullah. SubhanAllah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam atas segala karuniaNya.
“Wi, istirahat saja dulu. Mungkin ayahmu masih cukup lama. Nanti kalau ada kesempatan, diteruskan lagi membacanya.”
“Eh, iya, Eyang.”
Detik itu juga ia sudahi petualangannya. Sungguh luar biasa apa yang ia dapat siang itu. Meski terlihat tak banyak yang ia dapat, tapi sungguh sesuatu yang sangat sedikit itu saja dapat meendatangkan pahala Allah yang sangat berlipat-lipat bila dapat diamalkan dengan sungguh-sungguh dan tawakkal. InsyaAllah. Wallahu ‘alam…
Pukul 1 siang, Wi terbangun saat nada sholawat mengalun indah dari handphone-nya. Segera ia raih ponselnya. Tertera nama ayah dan foto sang adik yang muncul dilayar. Ia pencet tombol terima di ponselnya.
“Assalamu’alaikum, ayah sudah didepan.”
“Wa’alaikumsalam. Iya, aku keluar. Tunggu bentar.”
Segera ia bangun dan membereskan beberapa baju yang belum masuk dalam ransel. Kemudian ia berpamitan pada Eyang.
“Eyang, saya pulang dulu, ayah sudah jemput didepan.”
“O, ayahmu sudah datang. Sebentar, Eyang ambilkan kue, nanti kamu bawa pulang. Buat ngemil waktu buka puasa,” beliau kemudian beranjak mengambil plastik dan memasukkan beberapa potong kue kering kedalamnya.
“Ya Allah, nggak usah, Eyang. Eyang makan saja. Nggak usah repot-repot.”
Nggak apa-pa. Lagian kalau disini siapa yang makan. Udah, ini kamu bawa pulang, ya.”
“Makasih, Eyang. Kalau gitu saya pamit sekalian. Assalamu’alaikum,” kataku seraya mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati.”
“SubhanAllah, sungguh ini pemberian yang sangat banyak sekali,” batin gadis itu.
Ia teringat bahwa tadi malam, saat diundang pada acara buka bersama, ia diberi tambahan 1 porsi nasi oleh tuan rumah. Dan sekotak nasi itu ia berikan kepada Eyang. Nasi itu hanya sekotak, namun, ia dapat balasan yang lebih banyak lagi. Selain dapat kue dari Eyang, ia dapat kasih sayang dari beliau. SubhanAllah, Maha Suci Engkau Ya Robb. Engkau telah gantikan suatu pemberian kecil dengan imbalan yang sangat banyak dan berharga.


                           Dedew/Ashfi Raihan                     Kediri, Ahad, 22 Romadhon 1435 H / Minggu, 20 Juli 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: