Dimana ada api, disitulah
akan timbul asap. Dimana ada hujan, setelahnya akan ada teduh. Begitulah
alam berjalan beriring berpasang. Tiada yang benar-benar sendiri.
Hujan turun dengan derasnya
ketika bedug di langgar Mbah Lanang ditabuh, pertanda masuk waktu maghrib.
Guntur bersaing memekakkan telinga. Suara bedug kini hampir tak terdengar.
Tersamar derasnya pasukan langit yang turun ke bumi.
Mbah Lanang telah selesai
menabuh bedug. Dengan segera, ia kumandangkan adzan. Seruan pada manusia
yang masih ingat akan Tuhannya. Panggilan mulia tuk segera mendirikan
tiang agama.
Allahu
akbar Allahu akbar…
Allahu
akbar Allahu akbar…
Asyhadu
allaa ilaahaillallah…
Asyhadu
allaa ilaahaillallah…
Asyhadu
anna muhammadar rasululllah…
Asyhadu
anna muhammadar rasululllah…
Hayya
‘alassholah…
Hayya
‘alassholah…
Hayya
‘alal falah…
Hayya
‘alal falah…
Allahu
akbar Allahu akbar…
Laa
ilaaha illallah…
(laa
ilaaha illallah…)
Hati Mbah Lanang gerimis,
menyadari betapa mulia panggilan Allah. (©Dews)
Do’a setelah adzan
ia lantunkan dengan penuh harap dan syukur. Bersyukur karena hingga
detik itu ia masih dapat menghela nafas. Shalawat serta puji-pujian
pada Allah dan Rasulullah ia senandungkan di microphone. Pengeras suara itulah yang
menjadi salah satu teman harian Mbah Lanang. Dengan sabar menunggu jama’ah
yang akan shalat maghrib di langgar.
Hujan diluar semakin
deras. Kilat menyeruak menimbulkan cahaya terang di dalam langgar. Beberapa
kali Mbah Lanang beristighfar. Sesekali mengarahkan pandangan pada jalan
di depan langgar. Sepi. Yang ada hanyalah genangan air yang makin meninggi
di depan langgar.
Lima menit berlalu.
Mbah Lanang berdiri dan siap mengumandangkan iqamah. Tiba-tiba…
“Assalamu’alaikum…” (©Dews)
“Wa’alaikumsalam
warahmatullah…”
Mbah Lanang tersenyum
menyambut siapa yang datang. Ia serahkan microphone kepada si pendatang. Shalat
jama’ah didirikan.
“Allahu akbar…”
Mula-mula Mbah Lanang
memulai dengan surah Al Fatihah. Kemudian dilanjutkan membaca surah
Al Insyirah. Ia begitu menghayati setiap makna yang terkandung pada
surah yang ia baca.
Meski sudah terbilang
berusia senja, namun bacaan Mbah Lanang masih jelas serta tartil. Membuat
siapa saja akan merasa tenang dan hanyut dalam bacaan Mbah Lanang. Selesai
shalat, dan berdzikir, ia masih sempat nderes Al Qur’an disimak oleh Ihya’,
cucunya.
Langgar itu sebenarnya
bernama mushola Al Ikhlas dan Mbah Lanang yang di daulat sebagai imam
sekaligus penjaga mushola. Sehari-hari Mbah Lanang tinggal di sebuah
kamar kecil di samping mushola. Selain menjaga dan membersihkan mushola,
ia juga punya sepetak sawah yang ia tanami sayuran. Jadilah ia terkenal
sebagai Mbah Lanang penjaga langgar sekaligus petani sayur. Mushola
itu-pun lebih dikenal dengan sebutan langgar Mbah Lanang daripada mushola
Al Ikhlas.
Ihya’, merupakan cucu
dari adiknya dan telah ia anggap sebagai cucunya sendiri. Ia tinggal
tak jauh dari langgar. Ihya’-lah salah satu anak yang paling aktif
untuk shalat berjama’ah di langgar itu. Meski masih duduk di kelas
enam SD, ia sudah cukup paham akan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Berkat seringnya berjama’ah dengan Mbah Lanang pula, pengetahuan agama-nya
menjadi lebih luas dibanding teman-teman se-usianya.
Selesai nderes, mereka biasa untuk berdiskusi dan
terkadang ngopi bersama.
“Orang Le, kalau punya
rumah, lebih enak yang dekat kuburan.”
“Kenapa , Mbah?”
“Lha iya, tiap hari
lihat kuburan jadi ingat mati. Jadilah tiap saat istighfar.”
“Oh, gitu ya, Mbah.
Berarti ada juga rumah yang paling gak enak dong Mbah?”
“Iya ada.”
“Yang dimana, Mbah?”
Ihya’ begitu penasaran. Topik diskusi bersama Mbah Lanang selalu memantik
keingintahuannya.
“Yang dekat masjid
atau langgar.”
“Lho? Kok bisa, Mbah?
Bukannya lebih enak kalau deket masjid atau langgar. Kan enak tiap shalat
bisa jama’ah.”
Mbah Lanang terkekeh.
“Lha itu menurutmu,
Le. Ya memang benar, shalat jama’ah jadi mudah dilaksanakan. Tapi,
kalau kamu malas dan tidak melaksanakan shalat berjama’ah disana,
kamu termasuk orang-orang yang mendapat peringatan dari Rasulullah.”
Ihya’ melongo. Remaja
tanggung itu belum benar-benar memahami apa yang sedang ia dengarkan.
Mbah Lanang hanya terkekeh melihat ekspresi bingung dari cucunya.
“Lha iya, kata Rasulullah,
tidak sempurna shalat orang yang tempat tinggalnya dekat dengan masjid,
tapi dia shalat di rumah dan tidak shalat berjama’ah di masjid.”
***
Hujan reda setelah hampir
satu jam mengguyur. Tepat setelah Mbah Lanang dan Ihya’ selesai berjama’ah
shalat isya’.
“Le, hati-hati. Jalan
pelan-pelan, awas licin.”
“Iya, Mbah. Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam
warahmatullah...”
Mbah Lanang melepas
Ihya’ hingga ke serambi. Kembali ia arahkan pandangannya pada rumah-rumah
yang berdiri berjejal di sekitar langgar.
“Dulu, sekitar sini
masih sepi. Hampir semuanya masih sawah. Rumah penduduk masih jauh-jauh
jaraknya dan penduduknya juga masih sedikit. Meskipun begitu, dulu warga
begitu rajin pergi ke langgar. Jama’ah shalat, mengaji, mengembangkan
keilmuan dan keagamaan. Langgar ini dulu menjadi salah satu madrasah
dan tonggak perkembangan umat. Sekarang penduduk banyak, rumah-rumah
begitu dekat jaraknya, tapi kenapa langgar ini malah makin kosong?”
***
“Pak, anakmu tiap
hari bergaulnya sama Mbah Lanang. Nanti lama-lama dia bisa jadi tua
kayak Mbah.” Ibu Aisyah berbicara dengan kesal karena kelakuan Ihya’
yang tiap kali mendengar bedug ditabuh segera berlari menuju langgar.
Meninggalkan segala pekerjaan yang tengah dibebankan padanya.
Seperti sore itu, hujan
deras mengguyur dan Ihya’ diminta sang ibu membantu bapaknya membetulkan
genting rumah yang sedikit bergeser. Begitu mendengar Mbah Lanang menabuh
bedug, ia segera melesat ke sumur, mengambil wudhu, meraih sarung dan
kopiah. Meski ditahan untuk membantu, tapi sebentar kemudian Ihya’
telah menyambar payung dan melangkah keluar.
“Nanti Ihya’ bantu
lagi, shalat berjama’ah itu penting, Buk.” Begitu jawabnya tiap
kali diomeli habis-habisan oleh sang ibu. Bapaknya pun sama sekali tidak
menahan Ihya’ untuk terus membantunya. (©Dews)
Mendengar keluhan dengan
nada mencibir terhadap Mbah Lanang itu, Pak Hamid hanya diam saja. Percuma
meladeni istrinya yang memang sedang kesal dengan Ihya’ juga Mbah
Lanang.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam.
Udah selesai, Ya’?” tanya ibunya dengan sewot. Yang jadi obyek kemarahan
hanya cengar-cengir.
Ihya’ mengalihkan
pandangan pada bapaknya yang sedang sibuk membersihkan air yang masuk
kedalam rumah dari genting yang bocor.
“Tuh bantuin bapak
kamu, ibuk mau bikin adonan kue. Dari tadi nggak bisa kerja karena hujan.
Genting bocor, lantai basah.” Omel ibunya sambil menyerahkan kain
lap pel yang sejak tadi ia gunakan untuk mngeringkan lantai. (©Dews)
“Bukannya dari
seminggu yang lalu, ibuk sendiri yang minta biar hujan? Ibuk juga yang
paling rajin ikut shalat istisqo’ yang banyak dilaksanakan akhir-akhir
ini. Lha sekarang, kenapa malah ibuk yang paling ngeluh? Ini hujan yang
ibuk minta kemarin-kemarin itu lho, Buk. Masa nggak inget?” Dengan
santai ia menyahut perkataan ibunya.
Bapaknya hanya nyengir
mendengar Ihya’ memukul jatuh perkataan ibunya. Dengan manyun dan
ngedumel ibunya beranjak ke dapur.
“Dasar temannya Mbah
Lanang.” (©Dews)






0 comments:
Posting Komentar