| Source: google.com/images |
Kisah Seribu
Satu Malam dari terjemahan The Arabian Nights, berlatar sakit hati seorang raja
yang telah dikhianati oleh perempuan sehingga mempunyai pandangan bahwa semua
perempuan itu sama, dan hendaknya mereka semua dihukum dengan cara dinikahi
semalam kemudian dibunuh keesokan harinya. Syahrazad adalah seorang putri wazir
istana yang mengorbankan diri demi keselamatan para gadis di zamannya agar
tidak menjadi korban kekejaman Raja Syahrayar. Syahrayar sendiri,seperti yang
telah disebutkan, merupakan raja yang dikhianati oleh istrinya, hingga ia sama
sekali tidak percaya dengan perempuan. Demi menghukum setiap perempuan agar
tidak berselingkuh seperti istri pertamanya, raja menikahi seorang gadis setiap
hari, menggaulinya saat malam, dan pada pagi harinya perempuan tersebut akan
dibunuh. Hal ini menimbulkan kehebohan di seantero negeri. Pada suatu waktu wazir
kerajaan tidak dapat menemukan seorangpun gadis yang dapat dinikahi raja. Ia
pun menyerahkan Syahrazad, karena permintaan Syahrazad sendiri dengan keras
kepala, untuk dinikahi sang rajadan menyelamatkan ayah serta banyak gadis tidak
bersalah di luar sana. Karena kecerdasan, keluasan pengetahuannya, dan telah
memiliki strategi yang cukup baik, Syhrazad tidak keberatan untuk dinikahi Raja
Syahrayar. Sebelum menikah ia meminta bantuan adiknya, Dinarzad untuk memohon
izin raja. Dinarzad mohon izin agar setiap malam Syahrazad mau menceritakannya
sebuah cerita. Raja mengizinkannya dan setiap malam Dinarzad mendengarkan
cerita dari Syahrazad. Setiap pagi menjelang, Syahrazad yang cerdik selalu
memenggal cerita pada bagian yang membuat orang penasaran dengan lanjutan
kisahnya. Kondisi seperti ini berlanjut hingga raja Syahrayar tidak jadi
membunuh Syahrazad.
Kisah Seribu
Satu Malam alur maju dengan variasi kisah di dalam kisah, yang menceritakan sesuatu
yang telah terjadi. Prosa yang satu ini biasa disebut cerita berbingkai. Satu
cerita akan bercabang pada cerita yang lainnya. Jalan cerita cukup rumit
meskipun sebenarnya kronologis dari awal menuju akhir. Bingkai atau percabangan
cerita menjadi salah satu faktor jalinan cerita ini sulit diurai menjadi cerita
yang lurus. Kisah-kisah di dalamnya menjadi kompleks tatkala pembaca mungkin
lupa hubungan cerita yang satu dengan cerita sebelumnya. Tokoh yang ada dalam Kisah
Seribu Satu Malam cukup banyak dengan peran masing-masing yang cukup sulit diingat apabila cerita telah terlampaui. Tokoh-tokoh yang dihadirkan
saling melengkapi dan membawa misi masing-masing dalam kehadirannya. Tokoh yang
dihadirkan ada manusia dengan berbagai latar belakang sosial dan pekerjaan,
jin, dan hewan. Status sosial dari tokoh manusia mulai dari rakyat biasa,
pelayan, tukang cukur, pedagang, wazir, nelayan,darwis, raja atau khalifah, dsb.
Sebagian besar kepingan cerita menghadirkan wanita, harta, cinta, dan kedudukan
sebagai sumber permasalahan utama. Seperti yang tercantum pada awal kisah,
wazir diperkenalkan sebagai ayah dari Syahrazad dan Dinarzad. Dua orang
perempuan muda yang sama-sama cerdas. Hal ini diulang beberapa kali demi
menegaskan bahwa peran dua perempuan ini akan sangat vital di dalam cerita.
Tidak heran juga apabila dicantumkan sejak awal. Karena memang dua perempuan
muda ini yang mencoba peruntungan menyelamatkan seluruh perempuan di negeri
mereka, dengan cara menghadapi langsung sumber kekejaman, yaitu Raja Syahrayar.
Bukan dengan senjata akan tetapi dengan ilmu pengetahuan dan kecerdikan.
Syahrazad menyerahkan hidupnya pada Raja
Syahrayar sebagai “tumbal” untuk keselamatan semua perempuan di negerinya.
Dalam kisah ini diceritakan bahwa Syahrazad dengan berani memilih menghadapi
Raja Syahrayar dengan pengetahuan dan akal yang dimilikinya. Meskipun telah
memiliki strategi untuk membuat raja takluk padanya, sehingga selamat semua
perempuan di negerinya, Syahrazad sesungguhnya menghadapi keadaan tidak pasti
antara hidup dan mati. Raja bisa saja sewaktu-waktu berubah pikiran dan akan
membunuhnya apabila ceritanya tidak menarik dan aneh. Dinarzad sebenarnya juga
ikut terancam apabila rencana yang disusun kakaknya ini diketahui oleh raja.
Oleh karena itu Syahrazad selalu mengulur waktu dengan memenggal setiap bagian
yang menuntut untuk diceritakan kelanjutannya, agar cerita tersebut komplit dan
berkesan. Taktik Syahrazad cukup efektif untuk membuatnya selalu diatas angin
setiap malamnya ketika ia bercerita.
Kisah Seribu
Satu Malam menghadirkan kisah-kisah fantastik yang hampir tidak masuk nalar orang
zaman ini. Cerita yang fantastik seolah menjadi bagian sehari-hari dari
masyarakat seperti pertemuan dengan jin, orang yang dapat mendengar suara
binatang, orang dapat menyihir manusia menjadi binatang, dan lain sebagainya.
Kejadian-kejadian ini mungkin menjadi proyeksi atas keinginan manusia yang
ingin menjadi demikian. Orang boleh saja mempunyai keinginan untuk dapat
melakukan banyak hal luar biasa melampaui manusia pada umumnya, dan keinginan
tersebut tertuang dalam berbagai tradisi lisan dan tulis.
Tokoh-tokoh hewan yang dihadirkan seperti
keledai yang menasihati sapi seperti refleksi bahwa manusia selalu saling melihat
keadaan orang lain. Dalam usaha bercermin pada kehidupan orang lain tersebut
terkadang orang mengangap kehidupannya lebih sulit dari orang lain, atau orang
lain lebih baik dari dirinya. Sehingga muncul keinginan untuk berada pada
posisi orang tersebut. Akan tetapi jika dihayati lebih dalam belum tentu apa
yang kelihatan baik untuk orang lain adalah hal yang baik untuk orang itu.
Karena mungkin ukuran kebahagiaan dan kebaikan tiap manusia berbeda-beda. Kisah
ini menghadirkan hikmah-hikmah demikian tanpa ingin menggurui pada orang lain.
Hikmah tersebut hadir dengan tokoh yang sederhana,dekat dengan kehidupan
manusia, sering dimanfaatkan oleh manusia, akan tetapi dengan halus disisipi
hikmah luar biasa. Tokoh hewan yang dihadirkan seringkali merupakan yang dekat
denga kehidupan, akan tetapi dianggap sebagai makhluk yang kurang penting untuk
diperhatikan seperti keledai dan sapi tersebut.
Seperti yang telah disinggung pada beberapa
bagian yang lalu, bahwa peran perempuan begitu sentral dalam Kisah Seribu
Satu Malam. Perempuan seolah selalu dipersalahkan sejak awal kisah dibuka.
Seperti istri Syahzaman, istri Syahrayar, wanita-wanita lain yang dianggap
bersalah oleh Syahrayar, dan beberapa perempuan dalam kisah yang diceritakan Syahrazad
juga digambarkan sebagai sumber masalah, mengganggu stabilitas kehidupan, warga
kelas dua, dan kedudukannya tidak lebih tinggi dari laki-laki. Perempuan dalam kisah-kisah Syahrazad digambarkan sebagai sumber keindahan
sekaligus kehancuran bagi laki-laki. Dimana banyak tokoh perempuan yang menjadi
sebab laki-laki kehilangan wibawanya dikarenakan rasa cinta dan ketakjuban pada
rupa seorang perempuan. Namun seolah mematahkan argumen mengenai perempuan, yang
terdapat dalam kisah-kisah yang diceritakan Syahrazad, Syahrazad sendiri
merupakan seorang perempuan yang pada saat itu duduk disamping raja, membuat
raja penasaran selalu dengan kisah yang dibawanya. Begitu pula denga Dinarzad.
Adik Syahrazad ini meskipun masih muda juga menjadi sentral untuk membantu
kakaknya mengatur emosi dan rasa ingin tahu Raja Syahrayar. Nah dari dua
keterangan yang bisa dibilang saling tumpang tindih untuk mematahkan salah
satunya ini, perempuan warga kelas dua dan sebagainya, terlihat ada kekuatan
dibalik hal yang “sepertinya” kelemahan seorang perempuan. Hal ini terbukti
dengan tanpa sadar raja telah terpengaruh oleh Syahrazad dan adiknya, yang mana
pada saat itu tentu keadaan Syahrazad dianggap lemah, pilihannya hanya
bercerita yang menarik atau dibunuh keesokan harinya. Secara tidak langsung kisah menerangkan
bahwa kedudukan perempuan juga bisa sama dengan laki-laki, contohnya Syahrazad.
Pemilihan tokoh seperti jin yang dihadapkan
dengan manusia seperti ingin menunjukkan bahwa alam ini tidak hanya dihuni oleh
makhluk-makhluk kasatmata seperti manusia, hewan, akan tetapi juga makhluk tak
kasat mata yang tentu tidak semua orang dapat melihatnya. Mungkin kisah ini
juga ingin mengatakan bahwa hidup berdampingan dengan semua makhluk Tuhan harus
saling toleran, saling menghormati dan menghargai. Kemampuan manusia untuk berbicara
dengan jin dan hewan juga bisa jadi menunjukkan bahwa Tuhan berkuasa kalau Ia
menghendaki makhluknya punya kemampuan yang orang lain tidak punya. Akan tetapi
semua hal ini pun juga menjadi rahasiaNya, urusan pada siapa Ia akan memberi
kemampuan lebih, dan manusia cukup mensyukuri dan terus bertambah iman
kepadaNya.
Dalam Kisah Seribu Satu Malam yang
paling terlihat sebagai pengulangan adalah perkataan Dinarzad seperti, “Alangkah
aneh dan menariknya kisah itu!”, “Kak alangkah aneh dan menariknya kisah
itu!”, “Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakanlah kepada kami salah
satu dongengmu yang indah untuk mengisi malam.”, yang diulang di semua
bagian ketika settingmenjelang pagi atau pada malam harinya. Perkataan
Syahrazad juga diulang-ulang seperti, “Ini belum apa-apa dibandingkan dengan
apa yang akan kuceritakan kepadamu besok malam, jika sang raja mengizinkanku
dan membiarkan aku hidup!”, pada beberapa cerita di malam-malam selanjutnya
ada variasi “....apabila raja mengampuniku...”, “Besok malam akan
kuceritakan kisah yang mempesona dan menarik”. Pengulangan-pengulangan ini
seperti sebuah penegasan bahwa raja memang sangat kejam dan apabila kisah yang
diceritakan Syahrazad tidak menarik, tidak aneh, dan tidak mengherankan, maka
hidup Syahrazad akan berakhir pada pagi itu juga. Ini menunjukkan peran besar
dari Dinarzad dalam membantu kakaknya, dan menunda pembunuhan raja atas
Syahrazad. Kecerdikan Syahrazad dan Dinarzad diuji ketika satu kisah telah
selesai dan bagaimana membuat raja penasaran ingin mendengar kisah selanjutya.
Meskipun perempuan pada masa itu dianggap sebagai warga, yang mungkin, kelas
dua, Syahrazad membuktikan bahwa perempuan tidak dapat dianggap remeh.Dengan
kecerdasannya Syahrazad mampu memainkan perasaan dan emosi raja agar terus
mengikuti kisahnya. Pada malam kesekian dari kisah Syahrazad, raja mengatakan
bahwa ia bersumpah tidak akan membunuh Syahrazad sampai mendengar akhir kisah
dari Si Bongkok, dan kisah-kisah lainnya.Keputusan raja ini mungkin terpengaruh
dari gaya cerdik Syahrazad dengan ceritanya yang memikat. Ditambah dengan
Dinarzad yang terus memancing rasa penasaran untuk mengetahui kisah
selanjutnya. Akan tetapi, Syahrazad pun pernah mengalami semacam kegalauan pada
akhir kisah yang ia ceritakan. Ini terlihat pada kalimat, “Tetapi pagi hari
menjelang Syahrazad, dan dia menjadi terdiam.”. Mungkin pada malam-malam
sebelumnya Syahrazad berhasil membangun cerita sedemikian menarik dan memikat
hati, akan tetapi pada saat tertentu ia kemungkinan merasakan kecemasan akan
nasibnya esok hari. Sedangkan waktu terus berjalan dan ia harus tetap
menceritakan kisah-kisah yang membuat raja penasaran demi menunda kematiannya.
Dari berbagai kisah yang diceritakan oleh
Syahrazad terlihat budaya atau adat hidup yang biasa ditemui di Arab tergambar
jelas disana. Seperti kebiasaan berdagang, menjadi musafir untuk berdagang dari
satu tempat ke tempat lain, tradisi minum anggur, tempat tinggal di gurun, dan
perlakuan terhadap perempuan yang sedikit banyak menempatkan mereka menjadi
warga kelas dua. Tradisi bercerita pun kental terasa pada budaya Arab. Seperti
yang dikatakan orang bahwa, orang Arab merajah dalam lidah, bisa jadi terbukti
melalui Kisah Seribu Satu Malam. Disebutkan pula hukuman bagi seorang
pelaku kejahatan seperti hukuman pancung, potong tangan, hukuman dera, pun
muncul sebagai bagian dari budaya dan hukum agama yang diterapkan di Arab.
Kehidupan masyarakat Arab yang majemuk, beda suku dan agama, terasa saling
toleran. Hal ini tergambar dalam kisah orang-orang yang mengaku sebagai pelaku
pembunuhan Si Bongkok. Mereka saling membela dan tidak ingin mengorbankan
saudara mereka meskipun berbeda keyakinan.Dari semua yang dihadirkan tersebut, Kisah
Seribu Satu Malam pada akhirnya membawa unsur hiburan sekaligus nilai
hikmah dari adat hidup, dan sosial kemasyarakatan orang Arab.
Dewi Sept






0 comments:
Posting Komentar