RSS

Kisah Seribu Satu Malam: Sebuah Refleksi dan Simbol Perjuangan Perempuan


Image result for kisah seribu satu malam
Source: google.com/images
Pada periode awal, periode Jahili, Bangsa Arab atau Timur Tengah hanya mengenal sastra lisan berupa puisi. Syair yang terkenal adalah Al Mu’allaqat yang berarti kalung, perhiasan yang digantung. Pada masa itu orang Arab menunjukkan rasa bangga dengan suku bangsanya lewat puisi. Periode Shadr Islami, orang Arab mulai mengenal bentuk baru dari karya sastra yaitu prosa. Pada zaman ini terdapat codex uniqus atau naskah tunggal dari suatu tradisi, yaitu Al Qur’an. Dalam Al Qur’an dibagi menjadi dua periode yaitu ayat-ayat yang turun di Makkah dan Madinah. Ayat-ayat yang turun di Makkah, berupa puisi sedangkan di Madinah berupa percampuran atau hybrid antara puisi dan prosa. Hybrid ini menjadi embrio prosa mapan pada periode selanjutnya. Pada periode selanjutnya yaitu periode Abbasi banyak diterjemahkan prosa-prosa dari bahasa asing. Periode Abbasi menjadi periode penting dalam pembabakan sastra Arab. Penulisan prosa fiksi, hingga cerita berbingkai berkembang di periode Abbasi. Salah satu cerita berbingkai yang terkenal adalah Alif Laila wa Laila. Alif Laila wa Laila (Seribu Satu Malam) atau yang biasa disebut Kisah Seribu Satu Malam, adalah karya sastra besar yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Sebagaimana cerita berbingkai, pada satu cerita akan ditemui cerita lain di dalamnya. Cerita berbingkai ini memadukan antara kisah percintaan, hikmah, sosial masyarakat, yang sesuai dengan adat hidup orang Arab saat itu.
Kisah Seribu Satu Malam dari terjemahan The Arabian Nights, berlatar sakit hati seorang raja yang telah dikhianati oleh perempuan sehingga mempunyai pandangan bahwa semua perempuan itu sama, dan hendaknya mereka semua dihukum dengan cara dinikahi semalam kemudian dibunuh keesokan harinya. Syahrazad adalah seorang putri wazir istana yang mengorbankan diri demi keselamatan para gadis di zamannya agar tidak menjadi korban kekejaman Raja Syahrayar. Syahrayar sendiri,seperti yang telah disebutkan, merupakan raja yang dikhianati oleh istrinya, hingga ia sama sekali tidak percaya dengan perempuan. Demi menghukum setiap perempuan agar tidak berselingkuh seperti istri pertamanya, raja menikahi seorang gadis setiap hari, menggaulinya saat malam, dan pada pagi harinya perempuan tersebut akan dibunuh. Hal ini menimbulkan kehebohan di seantero negeri. Pada suatu waktu wazir kerajaan tidak dapat menemukan seorangpun gadis yang dapat dinikahi raja. Ia pun menyerahkan Syahrazad, karena permintaan Syahrazad sendiri dengan keras kepala, untuk dinikahi sang rajadan menyelamatkan ayah serta banyak gadis tidak bersalah di luar sana. Karena kecerdasan, keluasan pengetahuannya, dan telah memiliki strategi yang cukup baik, Syhrazad tidak keberatan untuk dinikahi Raja Syahrayar. Sebelum menikah ia meminta bantuan adiknya, Dinarzad untuk memohon izin raja. Dinarzad mohon izin agar setiap malam Syahrazad mau menceritakannya sebuah cerita. Raja mengizinkannya dan setiap malam Dinarzad mendengarkan cerita dari Syahrazad. Setiap pagi menjelang, Syahrazad yang cerdik selalu memenggal cerita pada bagian yang membuat orang penasaran dengan lanjutan kisahnya. Kondisi seperti ini berlanjut hingga raja Syahrayar tidak jadi membunuh Syahrazad.
Kisah Seribu Satu Malam alur maju dengan variasi kisah di dalam kisah, yang menceritakan sesuatu yang telah terjadi. Prosa yang satu ini biasa disebut cerita berbingkai. Satu cerita akan bercabang pada cerita yang lainnya. Jalan cerita cukup rumit meskipun sebenarnya kronologis dari awal menuju akhir. Bingkai atau percabangan cerita menjadi salah satu faktor jalinan cerita ini sulit diurai menjadi cerita yang lurus. Kisah-kisah di dalamnya menjadi kompleks tatkala pembaca mungkin lupa hubungan cerita yang satu dengan cerita sebelumnya. Tokoh yang ada dalam Kisah Seribu Satu Malam cukup banyak dengan peran masing-masing yang cukup sulit diingat apabila cerita telah terlampaui. Tokoh-tokoh yang dihadirkan saling melengkapi dan membawa misi masing-masing dalam kehadirannya. Tokoh yang dihadirkan ada manusia dengan berbagai latar belakang sosial dan pekerjaan, jin, dan hewan. Status sosial dari tokoh manusia mulai dari rakyat biasa, pelayan, tukang cukur, pedagang, wazir, nelayan,darwis, raja atau khalifah, dsb. Sebagian besar kepingan cerita menghadirkan wanita, harta, cinta, dan kedudukan sebagai sumber permasalahan utama. Seperti yang tercantum pada awal kisah, wazir diperkenalkan sebagai ayah dari Syahrazad dan Dinarzad. Dua orang perempuan muda yang sama-sama cerdas. Hal ini diulang beberapa kali demi menegaskan bahwa peran dua perempuan ini akan sangat vital di dalam cerita. Tidak heran juga apabila dicantumkan sejak awal. Karena memang dua perempuan muda ini yang mencoba peruntungan menyelamatkan seluruh perempuan di negeri mereka, dengan cara menghadapi langsung sumber kekejaman, yaitu Raja Syahrayar. Bukan dengan senjata akan tetapi dengan ilmu pengetahuan dan kecerdikan.
Syahrazad menyerahkan hidupnya pada Raja Syahrayar sebagai “tumbal” untuk keselamatan semua perempuan di negerinya. Dalam kisah ini diceritakan bahwa Syahrazad dengan berani memilih menghadapi Raja Syahrayar dengan pengetahuan dan akal yang dimilikinya. Meskipun telah memiliki strategi untuk membuat raja takluk padanya, sehingga selamat semua perempuan di negerinya, Syahrazad sesungguhnya menghadapi keadaan tidak pasti antara hidup dan mati. Raja bisa saja sewaktu-waktu berubah pikiran dan akan membunuhnya apabila ceritanya tidak menarik dan aneh. Dinarzad sebenarnya juga ikut terancam apabila rencana yang disusun kakaknya ini diketahui oleh raja. Oleh karena itu Syahrazad selalu mengulur waktu dengan memenggal setiap bagian yang menuntut untuk diceritakan kelanjutannya, agar cerita tersebut komplit dan berkesan. Taktik Syahrazad cukup efektif untuk membuatnya selalu diatas angin setiap malamnya ketika ia bercerita.
Kisah Seribu Satu Malam menghadirkan kisah-kisah fantastik yang hampir tidak masuk nalar orang zaman ini. Cerita yang fantastik seolah menjadi bagian sehari-hari dari masyarakat seperti pertemuan dengan jin, orang yang dapat mendengar suara binatang, orang dapat menyihir manusia menjadi binatang, dan lain sebagainya. Kejadian-kejadian ini mungkin menjadi proyeksi atas keinginan manusia yang ingin menjadi demikian. Orang boleh saja mempunyai keinginan untuk dapat melakukan banyak hal luar biasa melampaui manusia pada umumnya, dan keinginan tersebut tertuang dalam berbagai tradisi lisan dan tulis.
Tokoh-tokoh hewan yang dihadirkan seperti keledai yang menasihati sapi seperti refleksi bahwa manusia selalu saling melihat keadaan orang lain. Dalam usaha bercermin pada kehidupan orang lain tersebut terkadang orang mengangap kehidupannya lebih sulit dari orang lain, atau orang lain lebih baik dari dirinya. Sehingga muncul keinginan untuk berada pada posisi orang tersebut. Akan tetapi jika dihayati lebih dalam belum tentu apa yang kelihatan baik untuk orang lain adalah hal yang baik untuk orang itu. Karena mungkin ukuran kebahagiaan dan kebaikan tiap manusia berbeda-beda. Kisah ini menghadirkan hikmah-hikmah demikian tanpa ingin menggurui pada orang lain. Hikmah tersebut hadir dengan tokoh yang sederhana,dekat dengan kehidupan manusia, sering dimanfaatkan oleh manusia, akan tetapi dengan halus disisipi hikmah luar biasa. Tokoh hewan yang dihadirkan seringkali merupakan yang dekat denga kehidupan, akan tetapi dianggap sebagai makhluk yang kurang penting untuk diperhatikan seperti keledai dan sapi tersebut.
Seperti yang telah disinggung pada beberapa bagian yang lalu, bahwa peran perempuan begitu sentral dalam Kisah Seribu Satu Malam. Perempuan seolah selalu dipersalahkan sejak awal kisah dibuka. Seperti istri Syahzaman, istri Syahrayar, wanita-wanita lain yang dianggap bersalah oleh Syahrayar, dan beberapa perempuan dalam kisah yang diceritakan Syahrazad juga digambarkan sebagai sumber masalah, mengganggu stabilitas kehidupan, warga kelas dua, dan kedudukannya tidak lebih tinggi dari laki-laki. Perempuan dalam kisah-kisah Syahrazad digambarkan sebagai sumber keindahan sekaligus kehancuran bagi laki-laki. Dimana banyak tokoh perempuan yang menjadi sebab laki-laki kehilangan wibawanya dikarenakan rasa cinta dan ketakjuban pada rupa seorang perempuan. Namun seolah mematahkan argumen mengenai perempuan, yang terdapat dalam kisah-kisah yang diceritakan Syahrazad, Syahrazad sendiri merupakan seorang perempuan yang pada saat itu duduk disamping raja, membuat raja penasaran selalu dengan kisah yang dibawanya. Begitu pula denga Dinarzad. Adik Syahrazad ini meskipun masih muda juga menjadi sentral untuk membantu kakaknya mengatur emosi dan rasa ingin tahu Raja Syahrayar. Nah dari dua keterangan yang bisa dibilang saling tumpang tindih untuk mematahkan salah satunya ini, perempuan warga kelas dua dan sebagainya, terlihat ada kekuatan dibalik hal yang “sepertinya” kelemahan seorang perempuan. Hal ini terbukti dengan tanpa sadar raja telah terpengaruh oleh Syahrazad dan adiknya, yang mana pada saat itu tentu keadaan Syahrazad dianggap lemah, pilihannya hanya bercerita yang menarik atau dibunuh keesokan harinya. Secara tidak langsung kisah menerangkan bahwa kedudukan perempuan juga bisa sama dengan laki-laki, contohnya Syahrazad.
Pemilihan tokoh seperti jin yang dihadapkan dengan manusia seperti ingin menunjukkan bahwa alam ini tidak hanya dihuni oleh makhluk-makhluk kasatmata seperti manusia, hewan, akan tetapi juga makhluk tak kasat mata yang tentu tidak semua orang dapat melihatnya. Mungkin kisah ini juga ingin mengatakan bahwa hidup berdampingan dengan semua makhluk Tuhan harus saling toleran, saling menghormati dan menghargai. Kemampuan manusia untuk berbicara dengan jin dan hewan juga bisa jadi menunjukkan bahwa Tuhan berkuasa kalau Ia menghendaki makhluknya punya kemampuan yang orang lain tidak punya. Akan tetapi semua hal ini pun juga menjadi rahasiaNya, urusan pada siapa Ia akan memberi kemampuan lebih, dan manusia cukup mensyukuri dan terus bertambah iman kepadaNya.
Dalam Kisah Seribu Satu Malam yang paling terlihat sebagai pengulangan adalah perkataan Dinarzad seperti, “Alangkah aneh dan menariknya kisah itu!”, “Kak alangkah aneh dan menariknya kisah itu!”, “Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakanlah kepada kami salah satu dongengmu yang indah untuk mengisi malam.”, yang diulang di semua bagian ketika settingmenjelang pagi atau pada malam harinya. Perkataan Syahrazad juga diulang-ulang seperti, “Ini belum apa-apa dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu besok malam, jika sang raja mengizinkanku dan membiarkan aku hidup!”, pada beberapa cerita di malam-malam selanjutnya ada variasi “....apabila raja mengampuniku...”, “Besok malam akan kuceritakan kisah yang mempesona dan menarik”. Pengulangan-pengulangan ini seperti sebuah penegasan bahwa raja memang sangat kejam dan apabila kisah yang diceritakan Syahrazad tidak menarik, tidak aneh, dan tidak mengherankan, maka hidup Syahrazad akan berakhir pada pagi itu juga. Ini menunjukkan peran besar dari Dinarzad dalam membantu kakaknya, dan menunda pembunuhan raja atas Syahrazad. Kecerdikan Syahrazad dan Dinarzad diuji ketika satu kisah telah selesai dan bagaimana membuat raja penasaran ingin mendengar kisah selanjutya. Meskipun perempuan pada masa itu dianggap sebagai warga, yang mungkin, kelas dua, Syahrazad membuktikan bahwa perempuan tidak dapat dianggap remeh.Dengan kecerdasannya Syahrazad mampu memainkan perasaan dan emosi raja agar terus mengikuti kisahnya. Pada malam kesekian dari kisah Syahrazad, raja mengatakan bahwa ia bersumpah tidak akan membunuh Syahrazad sampai mendengar akhir kisah dari Si Bongkok, dan kisah-kisah lainnya.Keputusan raja ini mungkin terpengaruh dari gaya cerdik Syahrazad dengan ceritanya yang memikat. Ditambah dengan Dinarzad yang terus memancing rasa penasaran untuk mengetahui kisah selanjutnya. Akan tetapi, Syahrazad pun pernah mengalami semacam kegalauan pada akhir kisah yang ia ceritakan. Ini terlihat pada kalimat, “Tetapi pagi hari menjelang Syahrazad, dan dia menjadi terdiam.”. Mungkin pada malam-malam sebelumnya Syahrazad berhasil membangun cerita sedemikian menarik dan memikat hati, akan tetapi pada saat tertentu ia kemungkinan merasakan kecemasan akan nasibnya esok hari. Sedangkan waktu terus berjalan dan ia harus tetap menceritakan kisah-kisah yang membuat raja penasaran demi menunda kematiannya.

Dari berbagai kisah yang diceritakan oleh Syahrazad terlihat budaya atau adat hidup yang biasa ditemui di Arab tergambar jelas disana. Seperti kebiasaan berdagang, menjadi musafir untuk berdagang dari satu tempat ke tempat lain, tradisi minum anggur, tempat tinggal di gurun, dan perlakuan terhadap perempuan yang sedikit banyak menempatkan mereka menjadi warga kelas dua. Tradisi bercerita pun kental terasa pada budaya Arab. Seperti yang dikatakan orang bahwa, orang Arab merajah dalam lidah, bisa jadi terbukti melalui Kisah Seribu Satu Malam. Disebutkan pula hukuman bagi seorang pelaku kejahatan seperti hukuman pancung, potong tangan, hukuman dera, pun muncul sebagai bagian dari budaya dan hukum agama yang diterapkan di Arab. Kehidupan masyarakat Arab yang majemuk, beda suku dan agama, terasa saling toleran. Hal ini tergambar dalam kisah orang-orang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan Si Bongkok. Mereka saling membela dan tidak ingin mengorbankan saudara mereka meskipun berbeda keyakinan.Dari semua yang dihadirkan tersebut, Kisah Seribu Satu Malam pada akhirnya membawa unsur hiburan sekaligus nilai hikmah dari adat hidup, dan sosial kemasyarakatan orang Arab.

Dewi Sept

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: