RSS

Festival Tantular ke-8: “Antara Wayang, Museum dan Pendidikan Karakter Bangsa”

 

Mengusung tema mengenai wayang, Museum Negeri Mpu Tantular kembali mengadakan event “Festival Tantular” yang ke delapan. Salah satu acaranya yakni seminar budaya dengan tema “Antara Wayang, Museum dan Pendidikan Karakter Bangsa”. Seminar ini digelar pada Sabtu 20 Oktober 2017 dengan pembicara Sekretaris Daerah Dinas Kebudayaan Jawa Timur, Ki Sinarto, Guru Besar Universitas Negeri Malang, Prof. Joko Saryono, dan manajer Museum Gubug Wayang Mojokerto, Cintya Handi. Acara ini berlangsung pukul 08:00-11:15 WIB di Museum Negeri Mpu Tantular, Sidoarjo.

Pada kesempatan ini ketiga pembicara membahas mengenai wayang yang didalamnya mengandung estetika, ajaran moral, nilai agama, pandangan dan sikap hidup. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan yang berkembang di Jawa dan Bali. Wayang mengajarkan mengenai kedisiplinan, mengenal watak, dan memetakan karakter manusia lewat tokoh-tokoh yang ditampilkan. Seperti pada tokoh ksatria akan memiliki penggambaran fisik yang berbeda dengan tokoh raksasa, misalnya. Lalu jenis wayang sendiri di Jawa Timur, khususnya, ada banyak seperti wayang beber, wayang golek, wayang gedog, dan sebagainya. Wayang merupakan warisan budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Di dalam wayang terdapat nilai-nilai kebaikan, dimana ajaran mengenai kesalehan sosial dapat dipelajari dari wayang dan seni budaya lainnya. Para pembicara sekaligus mengajak masyarakat untuk cinta dan bangga pada budaya bangsa. Dari mencintai budaya, bangga pada budaya, maka akan timbul pula rasa nasionalisme. Apabila nasionalisme sudah mengakar kuat maka akan kuat pula persatuan dan kesatuan bangsa. Inilah nilai-nilai yang dibawa wayang sejak kemunculannya. Akan tetapi kebanyakan orang menganggap bahwa mencintai seni dan budaya mengarah pada hal-hal yang bersifat mengagung-agungkan dunia, mistis, dan tidak boleh dilakukan. Pandangan seperti inilah yang membuat seni sulit berkembang karena perasaan eksklusif pada satu hal tertentu.

Wayang pada masa kini mulai ditinggalkan peminatnya terutama dari kaum muda. Pemuda-pemudi lebih sibuk dengan gawainya dan sangat jarang punya perhatian terhadap seni budaya khususnya wayang. Akan tetapi kita boleh sedikit merasa lega karena masih ada anak muda dan para pegiat budaya yang mau melestarikan wayang. Museum Gubug Wayang Mojokerto salah satunya. Museum ini membuka akses selebar-lebarnya bagi anak-anak hingga remaja untuk mempelajari apa itu wayang, bagaimana cara membuatnya, dan bagaimana untuk terus mengenal lalu melestarikannya. Museum ini seringkali melakukan kegiatan pelatihan membuat wayang dari kardus. Hal ini merupakan inovasi dan solusi yang mungkin dapat digunakan untuk pengenalan wayang lebih luas lagi untuk anak-anak hingga remaja. Sebagaimana diketahui, di era yang serba dinamis ini seseorang dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan. Sama halnya dengan wayang yang menurut manajer museum tersebut yakni, Cintya Hadi, perlu adanya inovasi agar tetap dikenal meskipun lewat media sederhana. Pakem-pakem yang ada pada wayang tetap digunakan sebagai patokan. Lalu kreasi dari pembuatnya, mulai dari bahan hingga warna yang dipilih, merupakan bentuk kampanye atau sosialisasi mengenai wayang dengan media yang sederhana, mudah diterima, dan gampang untuk dikembangkan. Museum ini juga sering menggelar pelatihan hingga ke luar pulau dimana banyak masyarakatnya tidak mengenal wayang dengan baik. 

Bahasan selanjutnya yakni mengenai museum. Museum pada masa kerajaan dahulu merupakan sebuah kuil dan perpustakaan. Fungsi museum sendiri pada zaman dahulu ada tiga yakni sebagai tempat mengembangkan religiusitas, keilmuwan, dan kesenian. Museum pada era ini berfungsi sebagai media interaksi, relaksasi, edukasi, dan rekreatif bagi pengunjungnya. Museum sama halnya dengan wayang memiliki fungsi yang vital dalam pembentukan karakter bangsa. Sebagai ruang publik museum turut berperan aktif mendidik setiap orang yang ingin belajar mengenai kejayaan masa lalu. Lebih dari itu museum menjadi salah satu ruang untuk merenung dan berlaku hening. Museum sangat tepat dijadikan tempat refleksi diri agar manusia lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupannya. Dalam hening manusia akan mudah mengenal dirinya, dengan melihat sendiri bagaimana sejarah telah memberi wawasan dan juga peringatan pada manusia agar bijak dalam bertindak.

 




Source: google.com/images


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: