RSS

Tak Cukup 7 Hari


 ((NARATOR) Tahun 2000 sekian. Tersebutlah segerombolan santri yang akan mengais ilmu disebuah madrasah. Mereka begitu mensyukuri nikmat sehat yang dianugerahkan Allah SWT kepada mereka, sehingga sampai pada hari ini, mereka masih dapat menimba ilmu ditingkat lanjut dengan penuh bahagia.)
(Pada dasarnya, para santri ini, dititipkan ke madrasah bukan karena mereka telah pintar. Bukan pula karena mereka telah mengerti hakikat kebenaran. Akan tetapi, karena mereka masih butuh siraman ilmu, bimbingan lahir maupun batin, dari para ustadz, ustadzahlah, sehingga mereka berada disini.)
(Masuk pemain. Mulai kegiatan MOS)
(MOS berakhir. Kegiatan belajar mengajar berjalan normal seperti biasa.)
(Usman sedang membaca buku tentang perekonomian Islam, yang menurutnya sangat cocok diterapkan di Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah muslim . Tak lama kemudian Abu masuk ke dalam kelas.)
“Hai Usman, kamu lagi ngapain?” tanya Abu.
“Aku lagi belajar ekonomi. Kenapa?”
“Oh, nggak apa-apa kok. Eh, Man, gimana kalau kita belajar bareng? Ya, itung-itung buat nyicil ujian!”
“Boleh juga, tapi mending jangan cuma berdua. Kita ajak temen-temen sekelas yang pengen ikutan. Gimana?”
“Oke, kalau gitu nanti kita kasih tau mereka.”
(Mereka berdua memberitau teman-teman sekelas mereka. Respon yang mereka terima beragam. Ada yang menolak, ada juga yang menerima.)
“Ngapain sih, bikin acara belajar bareng? Ujian masih lama. Kita juga masih kelas sepuluh kan?? Ujian semester, apalagi ujian Nasional kan juga masih lama.”
“Iya bener tuh.”
(beberapa anak juga nimbrung berkomentar. Akhirnya hanya beberapa anak saja yang setuju mau belajar bersama.)
(tiba-tiba terjadi huru-hara. Kelas tiba-tiba ramai dengan kedatangan sekelompok siswa.)
(Umar dan kawan-kawannya datang dan membuat bising dikelas sehingga mengganggu konsentrasi teman-teman yang lain yang sedang belajar. Mereka berbicara serta tertawa keras-keras. Sebagian ada juga yang memainkan bola.)
(Abu beriniatif untuk mengajak Umar dan kawan-kawannya untuk belajar bersama.)
“Mar, kita mau ada belajar bersama, kamu boleh lho kalau mau ikut?”
(Umar memandang sebelah mata pada Abu.)
“Nggak mau. Emangnya ujian udah deket ya? masih jauh, Bu. Udah santai aja. Mending kamu ikutan kami main bola. Ya nggak temen-temen?”
(Umar bicara keras-keras kepada teman-temannya yang sedang saling lempar bola.)
“Betuuuullll!!!” (Mereka kompak menjawab)
(Abu dengan sabar menerima perlakuan dari Umar, dan memilih pergi.)
-------
(Kelompok belajar yang beranggotakan Usman, Abu, dan kawan-kawan yang lainnya berjalan lancar. Mereka terus istiqomah belajar bersama hingga saat kelas dua belas dan menjelang ujian nasional. Umar dan beberapa teman sekelas mereka masih santai dengan kegiatan mereka.)
“Li, kamu kenapa dari kemarin murung terus?” (Tanya Umar pada Ali)
“Aku kemarrin dimarahi Ibuku. Gara-gara try out kemarin aku nggak lulus. Kayaknya, aku pengen belajar yang rajin. Aku nyesel nggak belajar.”
(Umar memandang Ali dengan ekspresi terluka. Selama ini, Ali adalah kawan karibnya dalam membuat huru-hara disekolah)
“Tapi, besok, kamu bisa kan main sama kita? Pameran motor jadul nggak tiap minggu ada lho?”
“Maaf, Mar. Aku nggak bisa.” (Ali keluar, dan Umar memanggil dengan keras.”
“Li!! Kamu pengkhianat kalau besok nggak ikut sama kita.”
(Ali tidak menghiraukan dan terus melangkah pergi)
---
(Usman dan kawan-kawan sedang asik mendiskusikan tentang beberapa pelajaran. Tiba-tiba, Ali, salah satu teman karib  Umar datang mendekat.)
“Kenapa, Li? Kita nggak nyari masalah kan?” (Fatimah bertanya dengan sewot)
“Em, anu, boleh aku ikut gabung sama kalian?? Belajar bareng??”
(Semua kaget dan menatap Ali tak percaya.)
“Kamu serius, Li?” (Aisyah, Usman, Abu, Hindun, Bilal bertanya serentak)
“Kamu nggak becanda, Li??” (Atikah bertanya tak percaya)
(Ali hanya mengangguk)
(Jadilah, mulai saat itu, Ali bergabung untuk belajar bersama kelompok Usman.)
---
(Ditempat lain, Umar yang merasa dikhianati, berencana akan mendatangi Usman dan teman-temannya.)
“Heh, Usman, Abu, kalian kalau mau belajar nggak usah ngajak temen kita kenapa? Ali itu temenku, ngapain kalian ajak pengaruhi dia supaya belajar??”
(Semua merasa marah karena sikap Umar. Abu dengan kesabarannya akhirnya mencairkan suasana.)
“Mar, aku tanya sama kamu?? Kamu sekolah mau nyari apa sebenernya?”
(dengan emosi, Umar menjawab)
“Ya cari ilmu lah.”
“Tapi, kalau aku lihat, maaf ya, aku nggak bermaksud menggurui kamu. Kerjaan kamu hanya bikin huru-hara sana-sini. Nglanggar peraturan ini itu. Bikin para guru kesel sama perilaku kamu. Kamu sadar nggak kalau semua itu nggak bener?”
(Wajah Umar melunak.)
“Maksud aku, ayolah mulai sekarang kita belajar, belum terlambat kok buat kita belajar. Ujian nasional makin deket. Kamu nggak pengen buat orangtuamu, yang sudah susah payang menyekolahkanmu bahagia?”
(Umar hanya diam, lalu pergi)
(Masa-masa belajar ngebut mendera para siswa. Semua heboh dikejar waktu. Ujian semester, try out, ujian madrasah, sudah mereka lalui. Dan sebentar lagi ujian nasional.)
1 minggu sebelum UN.
(Umar mendatangi, Abu, Usman, dan juga Ali. Ia menyesal dengan semua kelakuan tidak baiknya selama ini. Dan meminta bantuan mereka untuk membantunya belajar. Dengan gembira, mereka membantu Umar mengejar ketertinggalan meskipun harus ekstra ngebut.)
(Ujian Nasional telah berlalu. Semua siswa deg-degan menunggu hasil UN mereka.)
“Dan, dengan sangat menyesal, kami umumkan bahwa ada 1 siswa yang, membuat kejutan pada UN kali ini. Dengan berat, saya umumkan, bahwa Umar, kamu termasuk,..”
(Dalam hati, Umar sudah menangis. Apakah dia tak lulus?)
“...Dan, Umar, Ibu atau Bapak wali murid, selamat Umar lulus ujian dengan nilai baik.”
(Spontan, Umar sujud syukur dan tak kuasa menahan haru. Iapun kemudian berlari menghampiri gurunya yang memberikan pengumuman tersebut. Ia begitu bersyukur, kesungguhannya membuahkan hasil manis. Meskipun ia tau, belum maksimal. Tapi, ia sangat bersyukur juga.)
“Anak-anakku yang Bapak banggakan. Alhamdulillah. Kalian patut bersyukur atas hasil memuaskan yang kalian raih. Apalagi Umar, Bapak tau kamu telah belajar ekstra keras satu minggu terakhir ini. Tapi Bapak pesan, cara belajar yang demikian bukanlah cara yang baik anak-anak. Meskipun Umar sudah menunjukkan hasil kerja kerasnya dengan baik, tapi, alangkah lebih baik apabila kalian mempersiapkan semuanya dari awal, agar hasil yang kalian dapat lebih maksimal lagi. Sekali lagi, selamat untuk kalian. Semoga apa yang telah kalian usahakan, mendapat barokah dan akhirnya bis bermanfaat untuk umat. Sekian. Wassalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh.”
(Semua siswa Madrasah begitu bahagia dan bersyukur atas segala hasil mereka. Lulus 100%. Satu per satu kemudian menyalami guru mereka sebagai tanda bakti dan terima kasih atas jasa beliau-beliau selama ini.)
Sekian....

 (17-05-15/Ash Raihan/Dew/MAN 3 KEDIRI)
(Bila ingin berinteraksi dengan penulis, atau mengikuti karya penulis yang lain, dapat mengakses blog pribadinya di http://toknowthefuture.blogspot.com , atau follow twitternya di @Dedew_Sept.

Thanks for your attention.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: