((NARATOR) Tahun 2000 sekian. Tersebutlah
segerombolan santri yang akan mengais ilmu disebuah madrasah. Mereka begitu
mensyukuri nikmat sehat yang dianugerahkan Allah SWT kepada mereka, sehingga
sampai pada hari ini, mereka masih dapat menimba ilmu ditingkat lanjut dengan
penuh bahagia.)
(Pada dasarnya,
para santri ini, dititipkan ke madrasah bukan karena mereka telah pintar. Bukan
pula karena mereka telah mengerti hakikat kebenaran. Akan tetapi, karena mereka
masih butuh siraman ilmu, bimbingan lahir maupun batin, dari para ustadz,
ustadzahlah, sehingga mereka berada disini.)
(Masuk pemain.
Mulai kegiatan MOS)
(MOS berakhir.
Kegiatan belajar mengajar berjalan normal seperti biasa.)
(Usman sedang
membaca buku tentang perekonomian Islam, yang menurutnya sangat cocok
diterapkan di Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah muslim . Tak lama
kemudian Abu masuk ke dalam kelas.)
“Hai Usman, kamu
lagi ngapain?” tanya Abu.
“Aku lagi belajar
ekonomi. Kenapa?”
“Oh, nggak
apa-apa kok. Eh, Man, gimana kalau kita belajar bareng? Ya, itung-itung buat
nyicil ujian!”
“Boleh juga, tapi
mending jangan cuma berdua. Kita ajak temen-temen sekelas yang pengen ikutan.
Gimana?”
“Oke, kalau gitu
nanti kita kasih tau mereka.”
(Mereka berdua
memberitau teman-teman sekelas mereka. Respon yang mereka terima beragam. Ada
yang menolak, ada juga yang menerima.)
“Ngapain sih,
bikin acara belajar bareng? Ujian masih lama. Kita juga masih kelas sepuluh
kan?? Ujian semester, apalagi ujian Nasional kan juga masih lama.”
“Iya bener tuh.”
(beberapa anak
juga nimbrung berkomentar. Akhirnya hanya beberapa anak saja yang setuju mau
belajar bersama.)
(tiba-tiba
terjadi huru-hara. Kelas tiba-tiba ramai dengan kedatangan sekelompok siswa.)
(Umar dan
kawan-kawannya datang dan membuat bising dikelas sehingga mengganggu
konsentrasi teman-teman yang lain yang sedang belajar. Mereka berbicara serta
tertawa keras-keras. Sebagian ada juga yang memainkan bola.)
(Abu beriniatif
untuk mengajak Umar dan kawan-kawannya untuk belajar bersama.)
“Mar, kita mau
ada belajar bersama, kamu boleh lho kalau mau ikut?”
(Umar memandang
sebelah mata pada Abu.)
“Nggak mau.
Emangnya ujian udah deket ya? masih jauh, Bu. Udah santai aja. Mending kamu
ikutan kami main bola. Ya nggak temen-temen?”
(Umar bicara
keras-keras kepada teman-temannya yang sedang saling lempar bola.)
“Betuuuullll!!!”
(Mereka kompak menjawab)
(Abu dengan sabar
menerima perlakuan dari Umar, dan memilih pergi.)
-------
(Kelompok belajar
yang beranggotakan Usman, Abu, dan kawan-kawan yang lainnya berjalan lancar.
Mereka terus istiqomah belajar bersama hingga saat kelas dua belas dan
menjelang ujian nasional. Umar dan beberapa teman sekelas mereka masih santai
dengan kegiatan mereka.)
“Li, kamu kenapa
dari kemarin murung terus?” (Tanya Umar pada Ali)
“Aku kemarrin
dimarahi Ibuku. Gara-gara try out kemarin aku nggak lulus. Kayaknya, aku pengen
belajar yang rajin. Aku nyesel nggak belajar.”
(Umar memandang
Ali dengan ekspresi terluka. Selama ini, Ali adalah kawan karibnya dalam
membuat huru-hara disekolah)
“Tapi, besok,
kamu bisa kan main sama kita? Pameran motor jadul nggak tiap minggu ada lho?”
“Maaf, Mar. Aku
nggak bisa.” (Ali keluar, dan Umar memanggil dengan keras.”
“Li!! Kamu
pengkhianat kalau besok nggak ikut sama kita.”
(Ali tidak
menghiraukan dan terus melangkah pergi)
---
(Usman dan
kawan-kawan sedang asik mendiskusikan tentang beberapa pelajaran. Tiba-tiba,
Ali, salah satu teman karib Umar datang
mendekat.)
“Kenapa, Li? Kita
nggak nyari masalah kan?” (Fatimah bertanya dengan sewot)
“Em, anu, boleh
aku ikut gabung sama kalian?? Belajar bareng??”
(Semua kaget dan
menatap Ali tak percaya.)
“Kamu serius,
Li?” (Aisyah, Usman, Abu, Hindun, Bilal bertanya serentak)
“Kamu nggak
becanda, Li??” (Atikah bertanya tak percaya)
(Ali hanya
mengangguk)
(Jadilah, mulai
saat itu, Ali bergabung untuk belajar bersama kelompok Usman.)
---
(Ditempat lain,
Umar yang merasa dikhianati, berencana akan mendatangi Usman dan
teman-temannya.)
“Heh, Usman, Abu,
kalian kalau mau belajar nggak usah ngajak temen kita kenapa? Ali itu temenku,
ngapain kalian ajak pengaruhi dia supaya belajar??”
(Semua merasa
marah karena sikap Umar. Abu dengan kesabarannya akhirnya mencairkan suasana.)
“Mar, aku tanya
sama kamu?? Kamu sekolah mau nyari apa sebenernya?”
(dengan emosi,
Umar menjawab)
“Ya cari ilmu
lah.”
“Tapi, kalau aku
lihat, maaf ya, aku nggak bermaksud menggurui kamu. Kerjaan kamu hanya bikin
huru-hara sana-sini. Nglanggar peraturan ini itu. Bikin para guru kesel sama
perilaku kamu. Kamu sadar nggak kalau semua itu nggak bener?”
(Wajah Umar
melunak.)
“Maksud aku,
ayolah mulai sekarang kita belajar, belum terlambat kok buat kita belajar. Ujian nasional makin deket. Kamu nggak pengen
buat orangtuamu, yang sudah susah payang menyekolahkanmu bahagia?”
(Umar hanya diam,
lalu pergi)
(Masa-masa
belajar ngebut mendera para siswa. Semua heboh dikejar waktu. Ujian semester,
try out, ujian madrasah, sudah mereka lalui. Dan sebentar lagi ujian nasional.)
1 minggu sebelum
UN.
(Umar mendatangi,
Abu, Usman, dan juga Ali. Ia menyesal dengan semua kelakuan tidak baiknya
selama ini. Dan meminta bantuan mereka untuk membantunya belajar. Dengan
gembira, mereka membantu Umar mengejar ketertinggalan meskipun harus ekstra
ngebut.)
(Ujian Nasional
telah berlalu. Semua siswa deg-degan menunggu hasil UN mereka.)
“Dan, dengan
sangat menyesal, kami umumkan bahwa ada 1 siswa yang, membuat kejutan pada UN
kali ini. Dengan berat, saya umumkan, bahwa Umar, kamu termasuk,..”
(Dalam hati, Umar
sudah menangis. Apakah dia tak lulus?)
“...Dan, Umar,
Ibu atau Bapak wali murid, selamat Umar lulus ujian dengan nilai baik.”
(Spontan, Umar
sujud syukur dan tak kuasa menahan haru. Iapun kemudian berlari menghampiri
gurunya yang memberikan pengumuman tersebut. Ia begitu bersyukur,
kesungguhannya membuahkan hasil manis. Meskipun ia tau, belum maksimal. Tapi,
ia sangat bersyukur juga.)
“Anak-anakku yang
Bapak banggakan. Alhamdulillah. Kalian patut bersyukur atas hasil memuaskan
yang kalian raih. Apalagi Umar, Bapak tau kamu telah belajar ekstra keras satu
minggu terakhir ini. Tapi Bapak pesan, cara belajar yang demikian bukanlah cara
yang baik anak-anak. Meskipun Umar sudah menunjukkan hasil kerja kerasnya
dengan baik, tapi, alangkah lebih baik apabila kalian mempersiapkan semuanya
dari awal, agar hasil yang kalian dapat lebih maksimal lagi. Sekali lagi,
selamat untuk kalian. Semoga apa yang telah kalian usahakan, mendapat barokah
dan akhirnya bis bermanfaat untuk umat. Sekian. Wassalamu’alaikum warohmatulloh
wabarokatuh.”
(Semua siswa
Madrasah begitu bahagia dan bersyukur atas segala hasil mereka. Lulus 100%.
Satu per satu kemudian menyalami guru mereka sebagai tanda bakti dan terima
kasih atas jasa beliau-beliau selama ini.)
Sekian....
(17-05-15/Ash Raihan/Dew/MAN 3 KEDIRI)
(Bila ingin
berinteraksi dengan penulis, atau mengikuti karya penulis yang lain, dapat
mengakses blog pribadinya di http://toknowthefuture.blogspot.com , atau follow twitternya di @Dedew_Sept.
Thanks for your
attention.






0 comments:
Posting Komentar