Warna-warni
sang pelangi
Mungkin tak
cukup mewarnai harimu
Teriknya
mentari
Mungkin tak jua
membakar semangatmu
Tapi yakinlah
Setelah hujan
ada keteduhan
Bukan berarti
harus menanti hujan untuk mendapat teduh
Tapi hatimulah
yang harus ciptakan keteduhan itu sendiri
Sore
ini, hujan turun dengan derasnya. Membuatku malas keluar rumah. Berbekal
sebongkah kenekatan, aku mulai menyusun skripsiku. Nggak mudah memang menyusun skripsi
dikala fikiran sedang tak jernih seperti ini.
Ini
adalah tahun ketigaku di Birmingham, Inggris. Aku kuliah finance atau
keuangan di Birmingham University. Semenjak tiga tahun lalu pula, aku terpaksa
mengubur dalam-dalam impianku untuk menekuni dunia seni. Ya, berkiprah di dunia
seni memang impianku yang terlambat kusadari. Entah mengapa aku merasa passionku
di seni melebihi keinginan orangtua untuk menjadikanku seorang ahli keuangan.
Ah, tapi sudahlah. Kehidupan menjadi calon sarjana keuangan lebih bisa
kunikmati sekarang. Paling tidak, masa depanku sudah lumayan jelas, karena aku
sudah diminta bekerja di salah satu lembaga keuangan milik negara, di Jakarta.
Sejenak
aku memandang rintik hujan kota Birmingham. Kota ini begitu menyiksa diawal
tahunku disini. Namun, sekarang begitu sayangnya aku dengan kota ini setelah
berada di tahun terakhir masa perkuliahan S1.
“Excuse
me. Any body home?” suara berat itu lagi yang membuyarkan lamunanku.
“Yes,
wait a minute.”
Kulangkahkan
kakiku menuju ambang pintu. Benar. Lelaki itu lagi.
“Whats
wrong?”
“Nothing.
Can I?” isyaratnya meminta dipersilahkan masuk.
“Not
for now. Tell me, what you want?”
“Here?”
“Absolutely,
yes.”
Melihat
tatapan kerasku, dia beringsut dari jaket tebalnya. Hujan sore ini memang
membuat siapa saja akan membeku bila berlama-lama diluar rumah. Tapi aku tak
peduli. Toh dia juga sudah terbiasa dengan perlakuanku ini.
Rautnya
yang tadi sedikit ramah, berubah dingin seketika. Dengan cepat dia menceritakan
apa yang sedang terjadi di rumah singgah. Ya, dia adalah satpam rumah singgah
yang kudirikan bersama beberapa kawan kampus, untuk menolong anak-anak
terlantar dan yatim di Birmingham.
***
“Kenapa
baru bilang Na? Bukannya kita saling terbuka dalam masalah apapun?” kataku
sedikit gusar kepada Nina. Dia adalah salah satu pengurus disini. Dia adik
kelasku di SMA Al Azhar Bogor.
Kami
sedang berjalan menuju ruang rawat salah satu rumah sakit di Birmingham. Dan suasana
sedikit tegang antara aku dan Nina.
“Ma’af
mbak. Tapi aku tau mbak sedang banyak tugas, dan aku nggak mau ngganggu mbak,”
kata-katanya sedikit bergetar. Aku tau dia merasa bersalah.
“Lantas,
kenapa baru sore tadi kau kirim Diego ke rumahku?”
“Aku
hanya menemukan waktu luang dijadwal harianmu sore ini mbak,” katanya lagi.
Oh
Tuhan, begitu perhatian Nina dan kawan-kawan pada diriku. Memang diantara para
pengurus rumah singgah, akulah satu-satunya mahasiswi tingkat akhir.
“Iya,
aku paham. Tapi seharusnya kalian juga memberitahuku kalau ada masalah serius
seperti ini.”
Aku
tak dapat berfikir jernih mengenai masalah ini.
Aqeela
adalah gadis kecil yang jadi topik pembicaraan kami. Sudah hampir setahun ini
dia menempati salah satu kamar di Orphanage. Dia mengidap asma yang cukup
parah. Penyakitnya tidak bisa sembuh secara total. Dan belakangan, sakitnya
sering kambuh. Musim hujan seperti ini memang sering membuat penyakit asma
seseorang mudah kambuh.
“Hi,
dear. What do you feel?” kataku penuh sayang ketika sudah berada di ruang
rawatnya. Membelai lembut kepalanya. Dia terbaring lemah di kamar itu.
“Oh,
hi Shena. This is more good than before,” jawabnya singkat. Aku masih dapat
melihat bias pucat diwajahnya.
“I
have a phoetry for you. I know you very bussy now. But, don’t think you’re
alone. I’m here. Stay with you. Don’t you know that?”
“Yeah,
I know. Thanks Aqeela. You must be healthy. I can’t see you with this condition
you know.”
Aku
memeluknya. Dia adalah tempatku mencurahkan segala isi hatiku. Memang masih
berusia 10 tahun. Namun, kerasnya jalanan di Inggris tlah membuat emosinya
tumbuh lebih cepat dari usianya.
Aku
tak ingin kehilangan Aqeela. Dia anak asuh kesayanganku. Sejak pertama kali
melihatnya, aku sudah suka terhadapnya. Aku merasa beruntung memilikinya di
dunia ini. Betapa sedihnya aku tiap kali harus melihatnya terkulai lemah di
ruang rawat rumah sakit.
“How
about your skripsi? Almost done?”
Aku
hanya sedikit tertawa mendengar ejekannya. Dia sangat tau kalau aku belum bisa
sama sekali meyelesaikan skripsi financeku.
“Don’t
ridicule my fate. You know I’m very glad to see you, because I can forget for a
minute my skripsi. Don’t remember me about that again, Ok.”
Aku
memelas meratapi bagaimana nasib skripsiku nantinya.
“Come
on, don’t be hopeless like this. I don’t like it.”
Dengan
senyum mengembang, Aqeela meraih tanganku dan membelainya.
Betty
hanya tersenyum mendengar percakapanku dan Aqeela.
Setelah
bercakap sebentar dengan Aqeela, aku merasa harus keluar. Membiarkannya kembali
istirahat. Dijaga oleh Betty. Dia adalah salah satu pengasuh di rumah singgah
yang paling kusukai.
“Stay
calm dear.”
Itulah
kata-kata yang selalu kudengar darinya ketika keadaan mulai genting. Aku begitu
menyayangi Betty seperti ibuku sendiri. Perempuan paruh baya itu, memang
menjadi orang tua kami semua di Orphanage.
Aku
memeluknya sebentar dan beranjak menemui Nina yang menunggu di depan ruang
rawat.
Aku
tak sanggup melihat orang menderita kesakitan seperti Aqeela. Mentalku tak
cukup kuat untuk melihat yang seperti itu. Modal nekat saja aku menjenguk anak
asuhku. Tak mungkin aku akan membiarkan tanpa menjenguknya, setelah tak ada
yang memberitahuku tentang keadaannya kepadaku dari awal kambuh.
“Dia
sedang istirahat. Gimana keadaan anak-anak yang lain. Oh, ternyata udah hampir
2 minggu aku nggak ke Orphanage,” aku sedikit menyesali diriku sendiri. Sudah 2
minggu tak berkunjung ke rumah singgah. Tapi, memang selama itu aku harus mencari
bahan untuk menyusun skripsiku.
“Mereka
baik. Hampir semua menanyakanmu mbak. Mungkin mereka sudah kangen padamu.
Mampirlah ke Orphanage kalau senggang. Aku yakin, anak-anak pasti senang kamu
datang.”
“Iya,
nanti pasti aku akan ke Orphanage. Tapi nggak dalam minggu-minggu ini. Tugas skripsi
ini ngebuat kepalaku udah hampir pecah. Kamu tau sendiri, finance is not my
passion, absolutely.”
Wajahku
memelas tapi tetap dingin. Aku tak ingin masalah ini sampai di telinga
keluargaku di Jakarta.
“Sudahlah
mbak, jangan terlalu diambil pusing. Kamu pasti bisa. Buktinya kamu sudah bisa
melewati 3 tahun ini dengan nilai yang selalu sempurna. So, tinggal selangkah
lagi mbak, buat menggondol predikat cumlaud. Aku yakin mbak pasti
bisa.”
Kata-kata
Nina begitu menyala-nyala. Rasanya aku memang ingin membuktikan pada dunia,
bahwa kuliahku yang awalnya hanya paksaan dari orang tua, kini bisa aku jalani
prosesnya dengan sempurna dan lulus dengan sempurna pula.
“Docter
help..!!”
Tiba-tiba
terdengar suara gaduh didalam ruang rawat Aqeela. Segera saja kami berdua masuk
kedalam kamar itu. Kulihat Aqeela sedang mengejang dan sesak. Dan Betty sedang
berusaha memanggil dokter dari tombol panggilan darurat di ruang itu.
Aku
tak sanggup melihat Aqeela seperti itu.
Tak
lama dokter tlah sampai, dan suster menyuruh kami meninggalkan ruangan.
Syaraf
kami menegang. Tak dapat membayangkan apa yang terjadi didalam. Yang ada dalam
benakku, Aqeela sedang berjuang melawan rasa sakitnya.
Setelah
hamper satu jam. Pintu ruang rawat Aqeela akhirnya menjeblak terbuka. Reflex
kami bertiga menaruh harap tak terjadi apa-apa dengan Aqeela.
Betty
beranjak dari tempat duduknya dan segera memberondongi dokter dengan segala
pertanyaan tentang kondisi Aqeela.
Tak
ada jawaban dari dokter. Ia hanya mengisyaratkan sesuatu yang tak kumengerti.
Namun Betty paham isyarat itu.
Betty
menjerit tak percaya. Air matanya tumpah tak terkira. Ia segera menghambur ke
ruang rawat Aqeela dan memanggil-manggil namanya.
The End
***






0 comments:
Posting Komentar