Rembulan mengulum
senyum pilu
Senyum lara malah
Sang dewi malam tak
hentinya menyesak lara
Kian hari tawa bintang
makin pudar
Tinggal secerca
semburat tipis senyumnya
Tetes guratan tipis di
pipi begitu menyilaukan
Awalnya temaram
Tapi sekarang begitu
kentara
Seonggok rasa tak
bertuan menepi pada lautan asa
Mengerling pada
gelombang yang begitu absurd
Dulu, di antara
gelombang mozaik rumit ini
Ia menambat jangkar
Namun sekarang
Jangkarnya kian terasa
usang karena gelombang lain datang silih berganti
Ia tak kuasa
memperbaiki lagi jangkarnya
Sang pandai yang dulu
sering ringan tangan
Ia rasa kini tak
seperti sedia kala
Mungkinkah karena
gelombang lain itu?
Pernahkah dia rasa
bahwa gelombang yang pandai beri
Makin lama,makin
membuatnya terseret pada pantai sang pandai?
Pernahkah sang pandai
rasa itu?
Sang pandai mungkin tak
rasa
Namun teriris rantai
jangkar ini karena sang pandai
Ingin lepas saja dari
sang pandai karena keabsurdan sebuah harap.






0 comments:
Posting Komentar