RSS

Serpih Sajakku

Rembulan mengulum senyum pilu
Senyum lara malah
Sang dewi malam tak hentinya menyesak lara
Kian hari tawa bintang makin pudar
Tinggal secerca semburat tipis senyumnya
Tetes guratan tipis di pipi begitu menyilaukan
Awalnya temaram
Tapi sekarang begitu kentara
Seonggok rasa tak bertuan menepi pada lautan asa
Mengerling pada gelombang yang begitu absurd
Dulu, di antara gelombang mozaik rumit ini
Ia menambat jangkar
Namun sekarang
Jangkarnya kian terasa usang karena gelombang lain datang silih berganti
Ia tak kuasa memperbaiki lagi jangkarnya
Sang pandai yang dulu sering ringan tangan
Ia rasa kini tak seperti sedia kala
Mungkinkah karena gelombang lain itu?
Pernahkah dia rasa bahwa gelombang yang pandai beri
Makin lama,makin membuatnya terseret pada pantai sang pandai?
Pernahkah sang pandai rasa itu?
Sang pandai mungkin tak rasa
Namun teriris rantai jangkar ini karena sang pandai
Ingin lepas saja dari sang pandai karena keabsurdan sebuah harap.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: