Rembulan sore menyapa dengan
anggunnya. Bak mentari senja yang malu-malu melambai di peraduannya. Terpandang
olehku sesosok dirimu. Berdiri menghadap arah angin, yang makin sore makin
halus membelai jiwa.
Selalu terpatri dalam ingatan, halusnya
siluet senyummu dibatas senja itu. Begitu buatku sejuk dan tak kuasa meredam
getaran hati. Teduh dan menenangkan jiwa ini.
Kini sosokmu memang tinggal sebatas
bayang absurd bagiku. Semua tentangmu memang tlah absurd sekarang dihariku.
Tersisa hanya seutas siluetmu di pelupukku. Namun, dirimu tetaplah dirimu.
Meski jiwa ini menjerit kesakitan karenamu, tapi hati ini tetap mendering
lirih, tetap berbisik dirimu, dirimu, dan dirimu yang ada dihatiku.






0 comments:
Posting Komentar