RSS

Pesan Dari Bukit Senja



Entah sedari kapan aku berada ditempat ini. Tempat ini asing bagiku,tapi begitu nyaman. Sayup-sayup nyanyian burung terdengar begitu indah,dan sangat menenangkan.
Tiba-tiba..
“Ibu..!!”, pekikku pelan.
“Sayang. Apa kabar nak?”, tanya ibuku yang muncul dari balik pepohonan zaitun.
“Ibu,Dea kangen sama ibu,” langsung saja aku peluk ibuku,setelah sekian lama aku tak berjumpa dengan beliau.
“Iya, ibu juga kangen sekali sama Dea. Kamu kenapa bisa ada disini?”,tanya Ibu heran.
“Dea nggak tau kenapa Dea ada disini Bu. Tapi,tempat apapun ini,Dea mau tinggal disini. Sama ibu.”
“Tidak,kamu nggak bisa tinggal disini nak,kata ibu tegas.
“Kenapa? Aku mau tinggal disini,sama ibu.”
“Nak dengarkan ibu. Belum waktunya untuk kamu tinggal disini. Nanti kalau sudah waktunya,kamu pasti akan tinggal disini.”
“Tapi bu,aku nggak suka tinggal disana. Aku nggak pernah bahagia disana,aku selalu diperlakukan tidak adil,” kataku menahan air mata. Teringat ketidakadilan Ayah pada hidupku. Tak pernah peduli denganku,dan aku pun tak yakin kalau dia menganggapku ada.
“Nak jangan begitu. Ya itulah hidup,hidup ini untuk berjuang,bukan untuk kamu putus asa. Kalau kamu diperlakukan tidak adil,bukan berarti kamu harus menyerah dengan keadaan. Kamu harus terus berjuang,dan berusaha sayang.”
Aku hanya bisa diam. Aku coba maknai kata-kata ibu. Mungkin ibu benar,tapi aku tak yakin.
“Ibu,aku tak yakin bisa bertahan disana.”
“Jangan begitu. Kamu belum mencoba nak. Yakinlah Allah selalu bersamamu,karena itu kamu nggak boleh takut sayang.”
Aku berfikir sebentar.
“Ibu yakin?”
“Iya ibu yakin. Semua masalah ada jalan keluarnya. Dan ingat nak,terkadang hidup kita nggak sesuai yang kita rencanakan,nggak sesuai yang kita harapkan. Tapi yakinlah bahwa Allah telah menyiapkan rencana yang lebih indah dibalik kesusahan itu. Jangan hanya karena kamu diperlakukan tidak adil,kamu jadi seperti ini.”
Sepertinya kata-kata ibu begitu merasukiku. Hingga pelan-pelan suasana bukit senja menghilang. Digantikan suara isakan tangis memenuhi ruang dengarku.
Pelan-pelan kubuka mataku. Aku dimana ini? Kenapa seperti ruang rawat rumah sakit?
“Alhamdulillah,kamu sudah sadar nak,” kata ayah dengan banjir air mata.
“A..aku dimana Yah??”,kataku lirih.
“Kamu dirumah sakit Nak. Kamu seminggu yang lalu kecelakaan,dan nggak sadarkan diri. Ma’afkan Ayah nak,selama ini ayah nggak pernah merhatiin kamu,nggak pernah peduli sama kamu,sampai kamu seperti ini. Ma’af sayang,” suara ayah yang selama ini selalu keras di ruang dengarku,kini berubah penuh sesal dan penuh kasih sayang.
“Ayah nggak perlu minta ma’af. Aku udah ma’afin kok.”
Aku merasakan seisi ruang ini bertabur haru. Ayah tak hentinya mengucap syukur,dan beliau berjanji akan lebih sayang lagi padaku.
Ibu,ma’afkan aku. Sekarang aku mengerti. Apapun yang terjadi dalam hidup adalah ujian,dan kita harus lulus dengan nilai Mumtaz.

                                                 The End...                                          

                                                 Thanks for your attention..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: