Entah sedari kapan aku berada ditempat
ini. Tempat ini asing bagiku,tapi begitu nyaman. Sayup-sayup nyanyian burung
terdengar begitu indah,dan sangat menenangkan.
Tiba-tiba..
“Ibu..!!”, pekikku pelan.
“Sayang. Apa
kabar nak?”, tanya
ibuku yang muncul dari balik pepohonan zaitun.
“Ibu,Dea kangen
sama ibu,” langsung saja aku peluk
ibuku,setelah sekian lama aku tak berjumpa dengan beliau.
“Iya, ibu juga kangen sekali
sama Dea. Kamu kenapa bisa ada disini?”,tanya Ibu heran.
“Dea nggak tau
kenapa Dea ada disini Bu. Tapi,tempat apapun ini,Dea mau tinggal disini. Sama
ibu.”
“Tidak,kamu
nggak bisa tinggal disini nak,”
kata ibu tegas.
“Kenapa? Aku mau
tinggal disini,sama ibu.”
“Nak dengarkan
ibu. Belum waktunya untuk kamu tinggal disini. Nanti kalau sudah waktunya,kamu
pasti akan tinggal disini.”
“Tapi bu,aku
nggak suka tinggal disana. Aku nggak pernah bahagia disana,aku selalu
diperlakukan tidak adil,”
kataku
menahan air mata. Teringat ketidakadilan Ayah pada hidupku. Tak pernah peduli
denganku,dan aku pun tak yakin kalau dia menganggapku ada.”
“Nak jangan
begitu. Ya itulah hidup,hidup ini untuk berjuang,bukan untuk kamu putus asa. Kalau kamu diperlakukan tidak
adil,bukan berarti kamu harus menyerah dengan keadaan. Kamu harus terus
berjuang,dan berusaha
sayang.”
Aku hanya bisa
diam. Aku coba maknai kata-kata ibu. Mungkin ibu benar,tapi aku tak yakin.
“Ibu,aku tak
yakin bisa bertahan disana.”
“Jangan begitu.
Kamu belum mencoba nak. Yakinlah Allah selalu bersamamu,karena itu kamu nggak
boleh takut sayang.”
Aku berfikir
sebentar.
“Ibu yakin?”
“Iya ibu yakin. Semua
masalah ada jalan
keluarnya. Dan ingat nak,terkadang hidup kita nggak
sesuai yang kita rencanakan,nggak sesuai yang kita harapkan. Tapi yakinlah bahwa Allah telah
menyiapkan rencana yang lebih indah
dibalik kesusahan itu. Jangan hanya karena kamu
diperlakukan tidak adil,kamu jadi seperti ini.”
Sepertinya
kata-kata ibu begitu merasukiku. Hingga pelan-pelan suasana bukit senja
menghilang. Digantikan suara isakan tangis memenuhi ruang dengarku.
Pelan-pelan
kubuka mataku. Aku dimana ini? Kenapa seperti ruang rawat
rumah sakit?
“Alhamdulillah,kamu sudah
sadar nak,” kata ayah dengan banjir air mata.
“A..aku dimana Yah??”,kataku lirih.
“Kamu dirumah
sakit Nak. Kamu seminggu
yang
lalu kecelakaan,dan nggak sadarkan diri. Ma’afkan Ayah nak,selama ini ayah nggak pernah merhatiin kamu,nggak
pernah peduli sama kamu,sampai kamu seperti ini. Ma’af sayang,” suara ayah yang selama
ini selalu keras di ruang dengarku,kini berubah penuh sesal dan penuh kasih
sayang.
“Ayah nggak
perlu minta
ma’af. Aku udah ma’afin kok.”
Aku merasakan
seisi ruang ini bertabur haru. Ayah tak hentinya mengucap syukur,dan beliau
berjanji akan lebih sayang lagi padaku.
Ibu,ma’afkan
aku. Sekarang aku mengerti. Apapun yang terjadi dalam hidup adalah ujian,dan
kita harus lulus dengan nilai Mumtaz.
The
End...
Thanks
for your attention..






0 comments:
Posting Komentar