Rona mentari senja menutup diary
panjang hari ini. Pelan-pelan kurebahkan tubuhku ke kasur tua yang mulai kusam
warnanya.
Hafalan hari ini hanya bertambah 7 ayat,padahal
biasanya sampai 15 ayat.
“Ifah,nanti habis isya’ kita ke
ndalem ya,” tiba-tiba Rima sudah duduk disampingku.
“Ada
apa ukhti?”
“Tadi Mbak.Mira ngasih tau,kalau
pondok akan kedatangan tamu penting dari Jakarta. Jadi mungkin brieving buat
acaranya,” katanya sedikit nyengir.
“Mau ada tamu aja pakek acara
brieving segala,” kataku tersenyum kecut.
Sebenarnya malam ini aku berniat menambah
hafalan. Target awal 2,5 tahun sudah khatam,tapi,sekarang sudah 2 tahun baru
menyelesaikan 20 juz.
Banyak
alasan kenapa aku berusaha keras hafalan Al Qur’an. Salah satunya untuk
mendapatkan beasiswa kuliah di Al Azhar,Mesir. Alasan yang lainnya,pastinya
untuk memberikan jubah kemuliaan kepada kedua orang tuaku yang telah lebih dulu
menghadapNya.
***
“Tamu kita ini adalah salah satu staf kedubes Indonesia di Mesir. Beliau adalah
salah satu alumni pondok Raudlatul Firdaus angkatan ke-7. Jadi,kedatanan beliau
kali ini selain untuk kujungan resmi kenegaraan juga untuk nostalgia.”
Bu
nyai menjelaskan dengan seksama hal ikhwal siapakah yang akan datang ke taman
surga kami.
Ahad
pagi . . .
Tamu
yang ditunggu telah tiba. Beliau adalah Al Ustadz H.Hafidz Hidayatullah.Lc. Segera
saja setelah rombongan beliau memasuki
area pondok, disambut dengan berbagai jenis pertunjukan seni khas pesantren seperti
banjari dan qasidah.
Tiba
saatnya aku membacakan ayat suci Al Qur’an. Kebetulan aku yng ditunjuk menjadi
Qari’ pada acara kali ini.
Ayat
demi ayat kulantunkan. Dengan penuh penghayatan,aku resapi tiap ayat yang baca
dengan tartil.
Rangkaian
acara hari itu, ditutup dengan mauidhoh hasanah oleh Al Ustadz H.Hafidz
Hidayatullah.Lc, dengan membawa tema, “Remaja Islam Penuh Harapan.”
***
“Ma,
kapan ya, aku bisa kayak Al Ustadz yang tempo hari datang kesini? Hafidz Al
Qur’an, udah gitu dapat beasiswa penuh sampai S3 di Al Azhar lagi,” kataku di
suatu pagi.
“Insya
Allah kalau kamu mau berusaha dan berdoa pasti kamu bisa. Lha kamu udah
berusaha dan berdoa apa belum?”
“Do’a
sih udah tiap hari, usaha, ya tau sendiri lah, aku usaha banget buat hafalan.
Tapi 2 tahun ini rasanya aku belum maksimal. Baru dapat 20 juz. Target awal kan
2,5 tahun udah khatam.”
“Ya
jangan gitulah. Yang penting usaha kamu selama ini udah lumayan. Kalau hasilnya
diluar perkiraan, berarti kamu harus berusaha lebih keras lagi.”
“Iya
juga sih. Ya udah deh, aku bakalan lebih giat lagi hafalannya. Doakan aku
Ukhti.”
“Insya
Allah.”
Rima
adalah sahabat terbaikku di sini. Semenjak kepergian kedua orang tuaku,sanak
saudara menitipkan aku di yayasan pondok Raudlatul Firdaus ini.
Hari
demi hari berikutnya di pondok. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di masjid
untuk menambah hafalan. Tiap waktu luang di sekolah pun,lebih banyak aku
gunakan untuk menambah hafalan.
Aku
sudah selalu mencoba istiqamah menggelar sajadah di sepertiga malam. Ku
pasrahkan kepada Ilahi Rabbi tentang semua impian dan harapanku.terutama unuk
memberikan jubah kemuliaan kepada kedua orang tuaku.
***
3
bulan berlalu…
“Dek
Ifah, tadi mbak mendapat amanah dari Bu Nyai untuk memberikan ini kepada
antum,” Mbak Mira menyerahkan sebuah amplop coklat dengn stempel bertuliskan
huruf arab, yang samar-samar aku kenali milik salah satu Univeritas di Timur
Tengah.
“Apa
mbak isinya?”
“Nggak
tau dek. Tapi kata beliau, InsyaAllah brmanfaat untuk kamu.”
“Iya
eh mbak. Syukron.”
“Afwan.
Mbak permisi dulu. Assalamualaikum”.
“Wa’alaikumussalam.”
Kira-kira
apa isinya?
***
Setelah
sholat Isya’ akulangsung kembali ke asrma El Ma’wa.
Aku
letakkan mushaf hijauku di atas meja tempat belajarku,dan mengambil amplop yang
diberikan Mbak Mira siang tadi. Pelan-pelan kubuka amplop itu.
Dan
benar. Ini adalah surat dari Al Azhar, Mesir.
Ku
baca peln-pelan baris demi baris tulisan arab yang rapi ditulis disecarik
kertas itu.
Subhanallah,
segera aku bersimpuh dan bersujud syukur. Derai air mataku tak kuasa ku bendung.
Ini
adalah surat pemberitahuan rekomendasi untuk tes calon penerima beasiswa pendidikan
di Al Azhar University, Cairo.
Alhamdulillh
Ya Rabb..
Segera
ku langkahkan kakiku yang masih sedikit gemetar ke ndalem.
“Assalamu’alaikum,”
salamku.
“Wa’alaikumusalam.
Ifah,masuk nak,” Bu Nyai mempersilahkan.
Setelah
duduk, aku tak kuasa mencegah lagi air mata ini untuk tumpah. Atas semua hadiah
dari Allah ini.
“Alhamdulillah,
Nak. Ustadz Hafidz yang beberapa bulan lalu datang kemari terharu mendengar
bacaan Al Qur’an mu dan setelah aku ceritakan tentang kamu yang berusaha
hafalan dengan keras untuk dapat kuliah di Al Azhar, beliau menyanggupi untuk
mencarikanmu beasiswa disana. Dan kemarin,Ustadz Hafidz berhasil mendapatkannya
dan sekarang dia mengirim surat rekomendasi untukmu, nak. Barakallah,” Bu nyai
yang memang tau sekali perjuanganku hafalan selama ini, pun menitikkan air
mata.
Subhanallah
wal hamdulillah Ya Rabb.
“Mulai
sekarang,lanjutkan hafalanmu hingga khatam. Sebulan lagi,kamu sudah harus
mencapai juz 25,karena itu syarat minimal diterimanya calon peserta didik jalur
beasiswa. Setelah itu,kamu harus mengirim balasan atas surat ini,yang
menyatakan kamu telah menyelesaikan hafalan 25 juz dalam Al Qur’an. Kamu
sanggup?” Bu Nyai menatapku mantap.
“InsyaAllah.
Umi.”
***
Jam
berlalu,hari demi hari teramat cepat berganti. Hingga 1 bulan yang tlah berlalu
hanya terasa sekian detik.
“Ikut
aku ngirim ini Rim,” kataku dengan tergesa-gesa.
“Apaan?”
“Surat
pernyataan kalu aku telah menyelesaikan hafalan 25 juz.”
“Kemana
ngirimnya?”
“Ke
kantor pos yang ada di Jogja. Soalnya kata Bu Nyai cumin disana yang punya
akses internet sangat cepat.”
“Jogja?
Itu kan jauh Fah. Bisa 2 jam dari sini. Emang terakhir kapan ngirimnya?”
“Hari
ini jam 2. Ayo berangkat sekarang.”
Segera
saja tanpa menghiraukan pertanyaa macam-macam dari Rima,aku terus mengayuh
sepeda tua milik pondok,ke kantor pos yang ada di Jogja.
Jalanan
begitu ramai dan sangat terik. Rasanya balutan baju panjang dan jilbab kami
yang tak kalah panjang,tak mampu menghalau kejamnya mentari yang menyengat.
Tiba-tiba…
“Lhoh,kenapa
Fah?”
“Nggak
tau Rim,kayaknya ban nya bocor.”
Kalut
menerpa kalbu ku dengan tiba-tiba. Kulirik arloji hitamku. Sudah jam 1. Ya
Allah bagaimana ini? Perjalanan masih cukup jauh.
Ditengah
keputus asaan yang menyapa,tak terasa butiran bening ini jatuh tak terhalau. Ya
Rabbi,bagaimana ini? Jikalau Engkau tak menghendaki aku untuk pergi,aku ikhlas
Ya Rabb. Tapi kumohon bantulah hambaMu ini.
Sepersekian
detik kemudian,sebuah truk pengangkut sayur berhenti didekat kami menyandarkan
sepeda. Sopir truk kemudian turun menghampiri kami.
“Mbak
sepedanya kenapa?”
“Ini
pak,bocor kayaknya. Disini nggak ada tukang tambal ban pula,” kataku dengan enghapus
air mata.
“Emangnya
mbak mau kemana?”
“Ke
Jogja Pak.”
Subhanallah
wal hamdulillah,sopir truk itu dengan baik hati menawari kami tumpangan.
Sampai
Jogja sudah mepet sekali dengan batas akhir pengiriman suratnya.
“Pak,mau
ngirim email ke Mesir gimana caranya?” tanyaku pada petugas kantor pos.
Tak
lama berselang petugas itu melayani pengiriman itu. Aku dikejar waktu,kurang
beberapa menit laagi ditutup akses pengiriman itu,namun tiba-tiba sinyal melemah
dan email belum bisa terkirim.
“Mohon
tunggu sebentar mbak,masih ada gangguan.”
Nggak
ada waktu lagi. Dalam hitungan detik pasti akan ditutup. Dengan pasrah,aku
lengkahkan kakiku meninggalkan meja petugas tadi.
“Sabar
Fah,mungkin belum sekarang,” Rima membesarkan hatiku.
Tiba-tiba…
“Berhasil
mbak. Emailnya sudah terkiri ke Al Azhar,tepat 1 detik sebelum ditutup,”
petugas tadi memberitahukan.
Refleks,aku
langsung sujud syukur mendengarnya. Alhamdulillah Ya Rabbi...
The End






0 comments:
Posting Komentar