Bias senyum yang dulu sering
terpandang oleh indraku, kini tlah hampir pudar tersapu derai hujan. Hujan yang
berderai karena titah Empunya, mampir di pelupukku. Hampir tak pernah kulihat
lagi senyum yang bersimphony dengan wajahnya yang teduh nan menyejukkan itu.
Jarak kita tlah jauh kurasakan
sekarang. Kini aku hanya dapat memandang seberkas siluet senyummu nan
menyejukkan itu, lewat jingga di batas senja. Karena senja berselimut jingga
itu, yang selalu mengingatkanku, bahwa aku pernah merasa dekat, dan berbagi
Rahmat Illahi yang suci ini dengan dirimu. Meskipun mungkin hanya bertepuk
sebelah tangan, namun asa suci ini kan tetap terpatri di lubuk terdalamku.






0 comments:
Posting Komentar