RSS

Berusaha Kembali Menulis Part 5 (Convenience Store Woman)

Bagian kelima dari seri Berusaha Kembali Menulis adalah Convenience Store Woman. Sebenarnya sudah naksir buku ini sejak awal-awal terbit, tapi belum ada kesempatan membaca hingga saat ini. Pembukaannya muncul seperti sebuah kaca yang diletakkan di depan mata. Pantulan macam apa ini. Semua masalah khas Asia.

Seperti melihat Gyeoul Hospital Playlist. Apakah Keiko seperti Gyeoul yang punya luka psikologis akibat kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya? Gyeoul yang baik, rasional, dan berhati dingin. Ternyata belum tentu. Orang yang keluarganya baik-baik saja pun dapat menjadi orang yang menurut masyarakat "tidak normal", seperti Keiko. Tontonan, bacaan, perilaku sehari-hari orang di sekitar, gaya berpakaian dan berbicara pun dapat saling memengaruhi.

Hidup Keiko minim emosi, awalnya. Mungkin benar, ya. Meminimalkan interaksi, meminimalkan keterlibatan emosi adalah bentuk pertahanan diri. Namun Keiko bertumbuh. Ia belajar menjemput emosi dan berinteraksi dengan orang-orang seperti yang dilakukan orang pada umumnya. Meninggalkan label ketidaknormalan menurut masyarakat, sedikit demi sedikit.

Rasanya lucu sekali membaca pernyataan Keiko tentang Shiraha yang sebentar lagi pasti diperbaiki. Semua orang yang ada di minimarket dipaksa menjadi normal. Baru kali ini ada tokoh yang menilai terjun ke masyarakat lewat supermarket tempatnya bekerja, berarti memperbaiki ketidaknormalan diri. Ini mungkin sama saja seperti anak-anak muda yang merasa introvert dan kurang bersosialisasi, ketika ada kesempatan dan kemauan, berbondong-bondong ikut sebuah kegiatan. Sesuatu yang positif dan patut diusahakan.

Sungguh, tidak ada waktu pembacaan yang salah waktu. Begitu menjelajah halaman demi halaman, maka terbuka pula apa saja yang selama ini bekerja untuk dunia normal. Semua aturan telah ada di kepala masing-masing orang. Seperti peraturan tidak tertulis, dunia normal berjalan dengan rambu-rambu yang telah melekat pada individu sejak baru lahir.

Seperti kata Shiraha, manusia normal gemar mengadili manusia yang tidak normal. Akan kuusahakan ingat dan terapkan untuk tidak mengadili hal apapun sejak dalam pikiran. Termasuk kenormalan dan ketidaknormalan, yang definitif maupun kenyataan.


Notes: kapan terakhir kali merasa normal dan tidak normal?


Baca bukumu!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: