Membayangkan aroma jalanan yang penuh debu, membuatku
muak. Belum lagi
berbagai teriakan dan sumpah serapah tak terdengar dari mulut-mulut yang ada di
jalanan. Berbagai realita tersaji jelas juga samar. Hanya debu-debu beterbangan
yang mampu menalar serapah manusia. Disaat seorang manusia hampir mati dengan
kesibukannya yang menggunung, ada juga sebagian lagi yang hampir mati bosan
karena tidak ada pekerjaan. Duduk di beranda maupun emperan toko. Menaksir
berapa keuntungan negara dari pajak perusahaan asing, yang terus saja bercokol
di perut nusantara. Tukang-tukang becak juga ojek menjadi teman setia sekedar
berbincang maupun adu jotos. Entah siapa yang memulai. Perkelahian juga obrolan
tingkat tinggi menguar dari lidah-lidah mereka. Salah pilih kata, matilah kau
kena itu muka. Siapa yang salah tidak jelas. Obrolannya yang jadi biang
masalah. Terlalu reaktif, juga kurang optimis. Mungkin segalanya itu
dikarenakan tungku istri tidak lagi mengepul, bahkan hanya menyulut surutnya
akur. Ah, bagaimana aku memulai kisah ini. Ini bukan sebuah kisah heroik
pahlawan super dengan tampu kuasa jadi tamengnya. Bukan pula ksatria berlaras
panjang dibalut sepatu lars. Bukan pula kisah begawan dengan tapa brata
memanggul ajaran kitabnya. Bukan. Bukan mereka. Ini hanyalah kisah biasa. Dari seorang
yang berjuang diantara para pejuang. (©Dews)
Deru klakson kembali ramai meneriakkan
tajinya. Berharap lawan di depan akan ciut, kemudian beringsut ke kiri. Sudah
menjadi hal lumrah bagi Raja Jalanan beradu klakson, selain badan truk-nya yang gagah.
Para pejalan dengan kecepatan di bawah 90 km/jam, sudah selayaknya menyadari
kecilnya daya dan dirinya. Itulah Raja Jalanan. Truk di depan dengan nama “Do’a
Emak” menepi beberapa meter. Raja mengambil kendali, menyeruak diantara
padatnya lalu lintas jam dua belas siang. Arah depan kanan kosong, saatnya
menginjak gas dalam-dalam. Kiriman sampai tepat waktu, sama dengan tangannya
menggenggam uang. Semua demi dapur istri yang bernafas satu dua minta dipenuhi
hajatnya. (©Dews)
Raja Jalanan bukanlah satu-satunya penghuni
panasnya aspal kala itu. Togog Raja menjadi lawan tanding sejatinya. Sama-sama
merantau dari jalanan pinggiran, menuju jalanan yang menjanjikan maut juga
uang.
“Si Togog dua menit di belakang kita, Bang.”
Kumis mengelap keringat yang sejak tadi tidak berhenti menggelayutinya.
“Dua menit bukan waktu yang pendek, Mis. Lihat
saja setelah ini.” Raja menginjak gas dalam-dalam untuk yang kesekian kalinya.
“Ngomong-ngomong istri abang sudah pulang ke
rumah?”
Raja berfikir sejenak. Membunyikan klakson dan
menyeringai senang saat kendaraan di depannya tunduk menyingkir. Itulah
satu-satunya hiburannya di jalanan selain mengecoh para polisi yang sedang
berjaga di persimpangan jalan.
“Belum.”
“Sudah ditelepon?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Sudahlah, Mis. Nanti saja ngomongin rumah.
Ini lagi seru. Kau lihat, Togog lima menit di belakang kita. Satu tikungan lagi
kita sampai di tempat bos. Kau tenanglah.” Raja melirik spion. Togog lumayan
jauh. Cukup jarang jarak tercipta sebegini lamanya.
“Bah, sejak kapan kau muak dengan omongan
tentang rumah?”
“Aku tidak muak. Siapa yang bilang aku muak.
Aku hanya berkata nanti saja bahasnya. Jangan sekarang.”
Truk Raja Jalanan berbelok menuju sebuah rumah
megah di kawasan gudang rongsokan. Truk Togog Raja tancap gas tanpa melihat truk
Raja Jalanan yang sudah kembali ke kandangnya.
“Nah, kita sudah sampai. Turun kau, Mis. Ayo
kita ke tempat Jamilah si cantik jelita.” Dengan senyuman lebar Raja turun dari
truk. (©Dews)
Para pekerja sudah berhamburan membongkar isi
truk seperti biasa.
Wajah-wajah kusut, memicing menghindari
sengatan raja siang. Entah bau di kawasan itu berasal dari tumpukan
barang-barang bekas atau keringat mereka.
“Noi, lapor bos ya. Truk Raja Jalanan udah
sampek dengan selamat ke kandang besar. Muatan 5 ton dari Jepara. Dalam keadaan
baik.”
“Ok, Bang. Udah Noi catet. Ini duitnya.
Sekalian potong kas bon muatan sebelumnya, Bang. 250 ribu ya.” Noi menyerahkan
5 lembar uang lima puluh ribuan.
“Bon gue tinggal berapa, Noi?” Raja menatap
lembarang uangnya.
“Tinggal seratus ribu.”
“Noi, gue sampek dengan selamat.” Kumis datang
bersamaan dengan dua gelas es teh manis di kedua tangannya.
“Ok, Bang Kumis. Ini ya, 125 ribu, potong bon
muatan sebelumnya.” Kembali Noi menyerahkan beberapa lembar uang kepada Kumis.
“Siap. Makasih ya, Noi. Dah, kalo lagi ngasih
uang gini Noi emang paling cantik se-kompleks.”
“Alah, kemarin aja katanya Jamilah yang lebih
cantik, sekarang kenapa ganti Noi? Semua aja dibilang cantik.”
Kumis hanya terkekeh. Raja menyeringai. Noi
hanya pura-pura manyun.
“Bang Togog tadi juga kirim?”
“Iya, tadi di belakang kita.”
“Kasian dia, Bang.”
“Kenapa?”
“Dapur istri kurang asupan gizi. Hampir
berhenti ngepul.” Noi berkata dengan prihatin.
“Semalaman Bu Lintang nangis gara-gara utang
dimana-mana.”
“Utang? Emang dia punya utang? Kayaknya selama
ini adem ayem aja.” Raja heran juga. Togog adalah sopir andalan. Bahkan jam
terbang Togog dua kali lebih padat dibanding Raja.
“Minggu ini dia empat kali muat pulang pergi. Minggu
lalu juga. Abang tau anaknya yang sekarang kuliah itu? Dia yang selalu bikin
emaknya nangis, Bang.”
“Kok?” (©Dews)
“Dia kuliah biayanya mahal banget, Bang. Bulan
lalu aja dia praktek biayanya berapa juta gitu. Nah, Bang Togog kan sayang
banget sama dia. Akhirnya terjadilah Bang Togog minjem uang ke bank. 10 juta
pula. Banyak banget kan? Sedangkan tau sendiri berapa gajinya Bang Togog.
Akhirnya ya tiap hari istrinya kerja, Bang Togog kerja. Siang, malem. Pernah ya
Bang, Noi liat mereka makan cuman nasi sama sambel doang. Kasihan banget deh
pokoknya.” Noi mengakhiri ceritanya.
“Trus duitnya Togog dua kali pulang pergi?”
“Abang Kumis kira-kira aja sendiri. Misalkan
duit 600 ribu, yang seratus sepuluh buat nyicil utang, empat ratus buat
kontrakan sama uang saku anaknya. Berarti tinggal 90 ribu kan buat mereka
seminggu. Dan lagi belum kebutuhan anaknya yang SMA, buat kontrakan rumah juga,
listrik. Haduh, pokoknya Noi sampek pusing ikutan mikirin keluarganya Bang
Togog.”
Raja tersenyum kecut.
“Lagian siapa yang nyuruh elu mikirin
keluarganya dia sih Noi? Lu aja yang kurang kerjaan mikirin urusan orang.”
Noi menyebik kesal.
“Bang! Udah selesai. Bisa diparkir truk-nya.”
Raja mengacungkan jempol. Teriakan Alim
terdengar nyaring padahal dari ujung dekat gerbang.
“Yuk, Noi! Gue balik dulu. Mis, pulang dulu.
Ni, duit buat bayar es-nya. Sampein salam gue ke Jamilah.” (©Dews)
“Loh, nggak jadi mampir?”
“Nggak. Dapur gue belum ngepul dari kemarin.”
Raja berjalan menuju truk-nya. Memarkirkan ke
garasi gudang. Beranjak dari garasi, ia memperhatikan warung kecil yang lebih
layak disebut bedeng itu. Tempat Jamilah melayani para sopir, kernet, dan para
pekerja gudang. Tersenyum kecil melihat Jamilah melambaikan tangan.
Bukan hari ini
Jamilah. Dapurku harus mngepul dulu.
Dew/Kediri,
1 September 2016






0 comments:
Posting Komentar